Sektor transportasi publik masih jadi primadona masyarakat Indonesia. Terlebih jelang mudik lebaran, arus transportasi darat, laut dan udara kian masif.
"Tragedi transportasi masih saja terjadi, baik dari faktor manusia, maupun faktor lainnya. Faktor penyalahgunaan narkoba bisa jadi salah satu biang keladinya," ujar Kepala BNN Anang Iskandar, Minggu (27/7).
Survey nasional P4GN pada sektor transportasi menyatakan 7,6% dari 7.628 pekerja transportasi darat mengonsumsi narkoba dalam satu tahun terakhir. Tentu, ini jadi catatan penting yang harus dicarikan formulasi penanganannya.
Mengurai masalah kecelakaan terkait dengan faktor manusia memang cukup rumit. Namun salah satu hal yang diwaspadai adalah bagaimana mengantisipasi agar masalah narkoba tidak menjadi duri dalam sektor transportasi ini.
Pada sektor transportasi darat (pengemudi bus, truk, taksi, travel, dan mobil sewa) dari seluruh responden survey sebanyak 7.628 orang ada 7,6% pekerja transportasi darat di antaranya mengonsumsi narkoba dalam satu tahun terakhir. Sedangkan di sektor laut, dari 896 responden, ada 5,4% pekerja transportasi laut mengonsumsi narkoba dalam satu terakhir. Sementara itu, pada sektor transportasi udara, dari 1.031 responden, diperoleh hasil 3,9% pekerjanya mengonsumsi narkoba dalam satu tahun terakhir.
Dari hasil survey ini, kata Anang, penyalahgunaan narkoba di sektor darat menjadi perhatian besar. Artinya, para pekerja seperti pengemudi mobil angkutan umum baik itu dalam kota atau antara kota sangat rentan dengan penyalahgunaan narkoba. Terlebih lagi menjelang lebaran, di mana arus transportasi darat via bus masih menjadi pilihan masif masyarakat saat ini.
Tentu harus ada langkah progresif yang diambil agar bisa menekan kecelakaan dari aspek manusianya. Menanggapi tingginya resiko penyalahgunaan narkoba dan kecelakaan transportasi Kepala BNN, Anang Iskandar mengungkapkan langkah preventif harus dioptimalkan oleh BNN, karena fakta yang ada banyak pekerja di sektor transportasi darat tidak paham dengan persoalan narkoba.
Minimnya pengetahuan para pekerja transportasi dalam masalah narkoba, tidak bisa dibiarkan karena jika hal ini diabaikan maka kecelakaan transportasi bisa terus mengalami peningkatan. "Pada tahun lalu, tim BNN dan Puslitkes telah melakukan survey di bidang transportasi. Hasilnya cukup mengkhawatirkan karena banyak sekali sektor transportasi darat yang belum peduli akan pentingnya mencegah narkoba di lingkungan kerjanya," kata Anang.
Oleh karena itulah, tambah Anang, pentingnya pemantapan wawasan mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba untuk pekerja bidang transportasi seharusnya menjadi salah satu prioritas. Karena pekerjaan yang mereka lakukan terkait erat dengan keselamatan publik.
Langkah proaktif BNN dalam menyosialisasikan bahaya narkoba telah diimplementasikan dalam bentuk pembentukan dan pemberdayaan kader anti narkoba di kalangan pekerja transportasi. Mereka dibina dan diberdayakan untuk terlibat langsung dalam kegiatan P4GN, dengan harapan, semakin banyak pekerja transportasi yang sadar dan lebih peduli terhadap bahaya narkoba, dan keselamatan publik.
"Di samping hal tersebut, langkah proaktif lainnya yang dilakukan BNN dan instansi terkait adalah tes urine bagi pengemudi berbagai moda transportasi terutama menjelang momentum penting seperti arus mudik lebaran setiap tahunnya," ujar Kepala BNN.
BNN bersama Kepolisian, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan setempat mulai bersinergi untuk menggelar tes urine dan tes kesehatan pada pengemudi bus angkutan lebaran. "Ini patut mendapatkan apresiasi, karena langkah antisipasi seperti ini menjadi langkah meminimalisir resiko kecelakaan dan memberikan rasa aman bagi para pengguna jasa angkutan," tutup Anang. (http://infopublik.kominfo.go.id/)