Sungguh
menyedihkan melihat remaja dan pemuda di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hampir
setiap hari, tidak siang tidak malam, mereka menenggak Sopi -- minuman keras (miras)
ala Kupang, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, bukan hanya
dipinggir jalan, melainkan juga di sudut gang. Yang mabok pun, bukan hanya
pemuda Kristen, tapi juga yang Muslim.
Sopi adalah
minuman tradisional khas Kupang dan Maluku yang mengandung alkohol. Minuman
memabukkan itu dipasok dari Maluku melalui Pelabuhan Tenau. Untuk mengelabui
aparat, Sopi yang dibawa dalam kemasan jerigen dan botol tersebut disisipkan
oleh pemiliknya di antara barang-barang bawaan lainnya. Namun, berkat kesigapan
polisi upaya tersebut dapat disita dan diamankan di Markas Polres Kota Kupang.
Sopi sendiri
berasal dari bahasa Belanda, Zoopje, yang berarti alkohol cair.
Meski keberadaannya illegal, namun minuman itu telah berurat dan berakar dalam
kehidupan masyarakat Kupang. Sopi disuguhkan dalam banyak upacara atau
pesta-pesta adat. Dalam keseharian pun Sopi selalu hadir di tengah masyarakat
Kupang.
Hal itulah
yang menjadi dilema bagi pemerintah daerah untuk menertibkannya. Ada rencana
pemda untuk melegalkan, tujuannya untuk mengkontrol produksinya. Sopi yang
beredar saat ini di masyarakat mempunyai kandungan alkohol di atas 50%
(60-75%). Sopi masuk ke dalam minuman keras golongan C. Di Kupang,
Sopi dijual eceran dengan harga Rp 5.000 per botol. Minuman ini ditengarai
menjadi pemicu tindakan kriminal di kalangan warga Kupang. Walaupun terus
disita aparat kepolisian, tetap saja Sopi masih dikonsumsi dan digemari
masyarakat.
Dampak Miras
Zulkifli,
preman tobat dari kelurahan Airmata yang akrab disapa Manix mengatakan, miras
bagi masyarakat Kupang dianggap biasa, bahkan menjadi budaya masyarakat
setempat. Saat menghadiri pesta pernikahan, misalnya, miras menjadi suguhan
bagi pemuda dan remaja di sini. “Kalau sudah acara bebas, biasanya banyak
pemuda yang mabok,” kata Manix.
Dan benar
saja, setelah Papua dan Ambon, ternyata Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya
Kota Kupang merupakan salah satu provinsi yang menempati rangking ketiga
pengkonsumsi minumas keras (miras) di seluruh Indonesia. Tak pelak, NTT pun
menjadi sorotan pemerintah pusat, karenas miras pun termasuk salah satu jenis
narkotika (miras, sabu-sabu, ganja, ekstasi, morfin serta heroin). Badan
Narkotika Provinsi NTT merinci, jumlah pemakai narkoba di NTT sebanyak 60.237
orang
Akibat
pengaruh miras, tingkat kriminalitas, terutama jenis kejahatan pemalakan,
penganiayaan dan pengeroyokan serta judi di Kupang terbilang tinggi. Hal itu
diakui, anggota Polresta Kupang saat bincang-bincang dengan voa-islam.
Bahkan, sebuah Koran lokal merilis berita yang cukup membuat kaget warga kota
Kupang, yakni tentang jumlah pengidap HIV/AIDS yang terus meningkat
Manix yang
sudah berhenti total mabuk-mabukan, kini giat beribadah di masjid. Setiap kali
masuk waktu shalat, Manix selalu shalat berjamaah. Namun, oleh teman-temannya,
Manix acapkali diejek, namun ia tak mengiraukan ejekan kawan-kawannya yang
masih suka teler itu. Anjing menggongong kafilah berlalu.
Minimnya
Kegiatan Dakwah
Seperti
diakui Manix, terkesan tidak ada pembinaan rohani remaja dan pemuda di Kupang,
khususnya di Air Mata. Hampir tak ada orang tua yang menegur ketika
melihat remaja dan pemuda Islam mencekek botol miras.
Sepertinya,
para pendakwah belum maksimal untuk meminimalisir pemuda yang suka menenggak
miras. Diperlukan kerjasama para ulama, umara dan pihak aparat untuk memerangi
miras. Mengingat miras di Kota Kupang sangat mudah didapat di setiap warung
yang ada di pemukiman penduduk.
Kegiatan
keagamaan di Kupang lebih bersifat serimonial, tanpa disertai pembinaan
(tarbiyah) yang dilakukan oleh seorang ustadz. Bayangkan, setiap kali diadakan
perayaan Maulid di Kupang selalu diperingati secara meriah dan gegap gempita.
Pembacaan Kitab Barjanzi yang dilantunkan dengan diiringi tabuhan rebana
mewarnai suasana di pemukiman Islam, seperti Airmata. Bukan hanya itu, aneka
hidangan yang dihiasi aneka warna menambah kemeriahan Mauludan di Kota Kupang.
“Jangan
salah, meskipun kampung Airmata disebut-sebut sebagai pemukiman Muslim yang
banyak dihuni oleh keturunan Arab, wilayah ini boleh dibilang Hollywoodnya
Kupang. Yang namanya miras belum bisa dihilangkan para remaja dan pemuda
disini, baik yang Kristen maupun yang Muslim. Anak muda di sini masih suka
teler,” kata rekan Manix menimpali.
Ingat, saat
kerusuhan di Ambon pada 19 Januari 1999. Kerusuhan itu berawal dari pemerasan
oleh pemuda mabuk dari daerah Batu Merah (mayoritas Islam) terhadap seorang
sopir mobil yang menimbulkan perkelahian diantara mereka. Akibat itu, kurang
lebih 50 korban jiwa (dari pihak Islam dan Kristen), 14 buah gereja dirusak
(terbakar), ratusan rumah dirusak dan dibakar, toko dan pasar dirusak dan
dibakar.
Maka belajar
lah dari kerusuhan di Ambon, betapa miras bisa menjadi penyebab kerusakan yang
lebih parah di negeri ini.
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/11/23/16791/menyedihkan-kupang-rangking-ketiga-pengkonsumsi-miras/#sthash.yM2VMjv9.dpuf
Menyedihkan, Kupang Rangking Ketiga Pengkonsumsi Miras
Kupang (voa-islam) – Sungguh menyedihkan
melihat remaja dan pemuda di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hampir setiap
hari, tidak siang tidak malam, mereka menenggak Sopi -- minuman keras
(miras) ala Kupang, baik secara terang-terangan maupun
sembunyi-sembunyi, bukan hanya dipinggir jalan, melainkan juga di sudut
gang. Yang mabok pun, bukan hanya pemuda Kristen, tapi juga yang Muslim.
Sopi adalah minuman tradisional khas Kupang dan Maluku yang
mengandung alkohol. Minuman memabukkan itu dipasok dari Maluku melalui
Pelabuhan Tenau. Untuk mengelabui aparat, Sopi yang dibawa dalam kemasan
jerigen dan botol tersebut disisipkan oleh pemiliknya di antara
barang-barang bawaan lainnya. Namun, berkat kesigapan polisi upaya
tersebut dapat disita dan diamankan di Markas Polres Kota Kupang.
Sopi sendiri berasal dari bahasa Belanda,
Zoopje, yang
berarti alkohol cair. Meski keberadaannya illegal, namun minuman itu
telah berurat dan berakar dalam kehidupan masyarakat Kupang. Sopi
disuguhkan dalam banyak upacara atau pesta-pesta adat. Dalam keseharian
pun Sopi selalu hadir di tengah masyarakat Kupang.
Hal itulah yang menjadi dilema bagi pemerintah daerah untuk
menertibkannya. Ada rencana pemda untuk melegalkan, tujuannya untuk
mengkontrol produksinya. Sopi yang beredar saat ini di masyarakat
mempunyai kandungan alkohol di atas 50% (60-75%). Sopi masuk ke dalam
minuman keras golongan C. Di Kupang, Sopi dijual eceran dengan harga Rp
5.000 per botol. Minuman ini ditengarai menjadi pemicu tindakan kriminal
di kalangan warga Kupang. Walaupun terus disita aparat kepolisian,
tetap saja Sopi masih dikonsumsi dan digemari masyarakat.
Dampak Miras
Zulkifli, preman tobat dari kelurahan Airmata yang akrab disapa Manix
mengatakan, miras bagi masyarakat Kupang dianggap biasa, bahkan menjadi
budaya masyarakat setempat. Saat menghadiri pesta pernikahan, misalnya,
miras menjadi suguhan bagi pemuda dan remaja di sini. “Kalau sudah
acara bebas, biasanya banyak pemuda yang mabok,” kata Manix.
Dan benar saja, setelah Papua dan Ambon, ternyata Provinsi Nusa
Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang merupakan salah satu provinsi yang
menempati rangking ketiga pengkonsumsi minumas keras (miras) di seluruh
Indonesia. Tak pelak, NTT pun menjadi sorotan pemerintah pusat, karenas
miras pun termasuk salah satu jenis narkotika (miras, sabu-sabu, ganja,
ekstasi, morfin serta heroin). Badan Narkotika Provinsi NTT merinci,
jumlah pemakai narkoba di NTT sebanyak 60.237 orang
Akibat pengaruh miras, tingkat kriminalitas, terutama jenis kejahatan
pemalakan, penganiayaan dan pengeroyokan serta judi di Kupang terbilang
tinggi. Hal itu diakui, anggota Polresta Kupang saat bincang-bincang
dengan
voa-islam. Bahkan, sebuah Koran lokal merilis berita
yang cukup membuat kaget warga kota Kupang, yakni tentang jumlah
pengidap HIV/AIDS yang terus meningkat
Manix yang sudah berhenti total mabuk-mabukan, kini giat beribadah di
masjid. Setiap kali masuk waktu shalat, Manix selalu shalat berjamaah.
Namun, oleh teman-temannya, Manix acapkali diejek, namun ia tak
mengiraukan ejekan kawan-kawannya yang masih suka teler itu. Anjing
menggongong kafilah berlalu.
Minimnya Kegiatan Dakwah
Seperti diakui Manix, terkesan tidak ada pembinaan rohani remaja dan
pemuda di Kupang, khususnya di Air Mata. Hampir tak ada orang tua yang
menegur ketika melihat remaja dan pemuda Islam mencekek botol miras.
Sepertinya, para pendakwah belum maksimal untuk meminimalisir pemuda
yang suka menenggak miras. Diperlukan kerjasama para ulama, umara dan
pihak aparat untuk memerangi miras. Mengingat miras di Kota Kupang
sangat mudah didapat di setiap warung yang ada di pemukiman penduduk.
Kegiatan keagamaan di Kupang lebih bersifat serimonial, tanpa
disertai pembinaan (tarbiyah) yang dilakukan oleh seorang ustadz.
Bayangkan, setiap kali diadakan perayaan Maulid di Kupang selalu
diperingati secara meriah dan gegap gempita. Pembacaan Kitab Barjanzi
yang dilantunkan dengan diiringi tabuhan rebana mewarnai suasana di
pemukiman Islam, seperti Airmata. Bukan hanya itu, aneka hidangan yang
dihiasi aneka warna menambah kemeriahan Mauludan di Kota Kupang.
“Jangan salah, meskipun kampung Airmata disebut-sebut sebagai
pemukiman Muslim yang banyak dihuni oleh keturunan Arab, wilayah ini
boleh dibilang Hollywoodnya Kupang. Yang namanya miras belum bisa
dihilangkan para remaja dan pemuda disini, baik yang Kristen maupun yang
Muslim. Anak muda di sini masih suka teler,” kata rekan Manix
menimpali.
Ingat, saat kerusuhan di Ambon pada 19 Januari 1999. Kerusuhan itu
berawal dari pemerasan oleh pemuda mabuk dari daerah Batu Merah
(mayoritas Islam) terhadap seorang sopir mobil yang menimbulkan
perkelahian diantara mereka. Akibat itu, kurang lebih 50 korban jiwa
(dari pihak Islam dan Kristen), 14 buah gereja dirusak (terbakar),
ratusan rumah dirusak dan dibakar, toko dan pasar dirusak dan dibakar.
Maka belajar lah dari kerusuhan di Ambon, betapa miras bisa menjadi penyebab kerusakan yang lebih parah di negeri ini.
Desastian
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/11/23/16791/menyedihkan-kupang-rangking-ketiga-pengkonsumsi-miras/#sthash.yM2VMjv9.dpuf