Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan

2 Juli 2016

Aneka Miras Lokal Asal Indonesia yang Berbahaya



1. CIU
Ciu merupakan sebuah nama sebutan untuk minuman keras khas dari daerah Banyumas dan Bekonang, Sukoharjo. Meskipun mungkin ada hubungannya tapi tidak sama dengan Ang Ciu atau arak merah Cina. Di Banyumas Ciu merupakan hasil fermentasi dari beras dengan kadar alkohol mencapai 50-90%. Di tempat ini Ciu illegal dan dengan aktif diberantas oleh pemerintah daerahnya. Di Bekonang di lain pihak, pembuatan Ciu ini didukung oleh pemerintah daerahnya, sehingga menjadi sangat populer dan dipasarkan ke seluruh Karesidenan Surakarta, Surabaya hingga Madura. Pada jaman dahulu setiap ada hajatan malamnya pasti diikuti dengan acara mabuk “Ciu Bekonang”. Ciu ini pembuatannya menggunakan tape dan ketan sehingga hasil fermentasi dari singkong tidak seperti saudaranya di banyumas. Kedua Ciu tidak berwarna, bening dan rasanya sangat kuat.


2. Anggur Orang Tua, Bir Bintang, Anker Beer dan Minuman Keras Lokal Lainnya

Meskipun masih menjadi polemik dan perdebatan di kalangan rohaniawan, minuman keras produksi skala besar telah menjadi bisnis yang sangat besar. Lihat saja grup orang tua yang dari anggur kolesomnya bisa merambah hingga ke bisnis makanan lain. Bir produksi dalam negeri (yang rasanya kalah jauh dengan bir luar negeri) juga populer di kalangan masyarakat kecil. Minuman-minuman itu ada di daftar ini hanya karena mereka dibuat di Indonesia meskipun kecil nilai tradisinya.


3. Lapen

Nah minuman keras asal Yogyakarta ini reputasinya sungguh buruk. Coba saja Kalian cari di google mengenai minuman ini, halaman awal akan didominasi kisah-kisah tragis penegak lapen, dari kebutaan, kelumpuhan, sampai kematian massal. Namanya pun sudah cukup sangar Lapen merupakan singkatan dari “langsung pening”. Memang cara pembuatan nya akan membuat kita geleng kepala. Alkohol 98,5% dicampur 15 liter air mineral ditambah gula dan pemanis lainnya, didiamkan 12 jam siap untuk dikonsumsi. Kalian yang jeli akan bertanya alkohol apa yang dipakai? Disitulah masalahnya karena tidak jelas maka minuman ini sering terkontaminasi Methanol yang sangat beracun (bahan kosmetik, pembersih, dll) yang akan menjadi asam di dalam tubuh dan menyerang sistem saraf terutama saraf mata. Lebih parahnya lagi di Yogyakarta para pemuda yang hilang arah sering adu keberanian dengan mencampur Lapen dengan berbagai cairan lain untuk memperkuat rasanya .


4. Sopi

Sopi adalah minuman keras asal Maluku yang dilarang di sana namun sudah sangat populer dan mendarah daging. Sopi sendiri merupakan fermentasi dari pohon aren (jadi masih bersaudara dengan minuman keras Indonesia lainnya) dan memiliki kadar alkohol diatas 50%. Pembuatan Sopi yang menghasilkan rasa khasnya adalah penambahan bubuk akar Husor dan penggunaan bambu untuk penyulingan. Para pembuat Sopi tradisional meskipun terlarang sangatlah makmur sampai bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku kuliah maka ada sebutan di Maluku sudah ada orang yang menjadi profesor-profesor karena Sopi ini. Ada yang bilang rasa Sopi mirip Vodka.


5. Arak Bali

Mirip dengan tuak, arak bali merupakan minuman keras hasil fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan lain. Kadar alkoholnya 37-50%. Arak ini dari namanya saja sudah jelas berasal dari Bali dan sering digunakan dalam upacara-upacara adat. Dalam upacara menghormati para dewata arak akan dituangkan ke daun pisang yang sudah dibentuk seperti tangkup dan kemudian arak akan dicpiratkan tangan kanan dengan bantuan sebuah bunga. Arak-arak untuk upacara biasanya mutu terendah karena arak terbaik akan diminum. Arak ini cukup populer juga di kalangan wisatawan di Bali dan salah satu resep cocktail yang terkenal adalah “arak attack” yaitu campuran Arak Bali dan orange juice. Meskipun banyak turis mancanegara tidak akan terkesan dengan rasa arak dibanding minuman keras dunia lainnya namun keberadaan Arak Bali jelas membantu seorang asing menikmati liburannya dan mempromosikan pulau dewata.


6. Tuak

Tuak merupakan minuman keras khas Indonesia hasil fermentasi dari bermacam buah. Bahan-bahan tuak biasanya beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira kelapa atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain. Di daerah Batak tuak dibuat dari pohon aren yang mirip pohon kelapa maka sering disebut bir panjat. Bar-bar tradisional yang menyediakan tuak disebut lapo tuak.Di salah satu lapo tuak tertulis Segelas tuak penambah darah. 2 gelas, lancar bicara. 3 gelas, mulai tertawa-tawa. 4 gelas, mencari gara-gara. 5 gelas, hati membara. 6 gelas, membuat perkara. 7 gelas, semakin menggila. 8 gelas, membuat sengsara. 9 gelas, masuk penjara dan 10 gelas, masuk neraka.


7. Cap Tikus & Sagoer 

Cap Tikus merupakan minuman keras dari Manado hasil penyulingan Sagoer. Sagoer sendiri adalah cairan yang disadap dari pohon enau dan mengandung sedikit kadar alkohol sekitar 5%. Setelah disuling dengan cara tradisional, minuman khas Minahasa ini menjadi pendorong kerja untuk kalangan petani. Namun saat ini Cap Tikus lebih menjadi sarana pelampiasan dan mabuk-mabukan. Begitu berbahayanya minuman ini hingga orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke neraka. (http://duniaandromedaku.blogspot.co.id/)

11 Mei 2016

Buah Naga Afkiran Bisa Menjadi “Minaga”


WARJIMIN  menunjukkan salah satu hasil produksi UKM yang diberi nama "Minaga".*
TOK SUWARTO/PRLM
WARJIMIN menunjukkan salah satu hasil produksi UKM yang diberi nama "Minaga".*
Buah hasil panen para petani, tidak selamanya bisa terjual habis. Begitu pula dengan buah naga hasil panen para petani di wilayah Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang sebagian besar juga tidak laku dengan berbagai sebab.
Warjimin, seorang karyawan Dinas Pertanian Kab. Sragen, yang tinggal di Desa Prampalan, Kec.Masaran, Sragen, merasa prihatin menyaksikan banyak buah naga akhirnya membusuk karena tidak terjual. Sehingga pada 2006 lalu dia berpikir, dapatkah buah naga afkiran itu dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi.
"Saya dan para petani prihatin, karena setiap musim panen buah naga antara bulan November-Desember, banyak buah terpaksa dibuang karena tidak laku dijual. Padahal buah naga jenis super red yang warnanya merah menyala dan dagingnya juga merah, mengandung banyak zat yang bermanfaat untuk kesehatan," ujar Warjimin.
Buah naga yang ditolak para pedagang, menurut Warjimin, adalah buah yang beratnya per biji kurang dari dua ons dan yang lebih dari dua ons. Itu berarti banyak sekali buah yang akhirnya hanya dibiarkan membusuk dan nyaris mematahkan semangat para petani yang sedang demam budidaya buah naga yang sudah berhasil baik.
Dalam situasi itulah, Warjimin didukung kelompok tani buah naga mencoba mengolah buah naga menjadi minuman segar, sirop, selai, manisan dan lain-lain. Upaya terus-menerus tak mengenal putus asa itu akhirnya berhasil, walaupun masih jauh dari sempurna.
Hasil olahan buah naga afkiran itupun akhirnya diterima konsumen. Buah naga yang awalnya hanya membusuk di pekarangan rumah, sedikit demi sedikit mulai memberi nilai tambah.
Melalui proses cukup panjang, hasil olahan para petani itu pun semakin baik dengan kemasan menarik. Itu terjadi setelah seorang pakar gizi dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP-UNS) Solo, Prof. Dr. Sri Handayani memberikan bimbingan teknis langsung kepada petani. Bimbingan itu juga didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS berupa teknis pengemasan, pemberian bantuan peralatan untuk tutup botol ulir dan lain-lain.
"Awalnya buah naga yang kami olah hanya buah sisa yang tidak laku, sehari hanya mengolah 5 - 6 Kg. Daging buahnya kami buat sirop segar atau sirop fermentasi dengan kadar alkohol rendah layak konsumsi.Ampasnya dibuat selai, kulit buahnya untuk manisan dan airnya diolah menjadi minuman segar. Pokoknya tidak ada bagian buah naga yang
terbuang," kata Warjimin menandaskan.
Setelah hasil produksinya semakin baik, setahun kemudian sejak rintisan mengolah buah naga, atau tepatnya tahun 2007, Warjimin mendirikan badan usaha Koperasi Wana Bekti Handayani dan CV Wahana Bekti Handayani. Badan usaha tersebut sebagai penampung dan pengolah buah naga, serta memasarkan hasil produksinya, terutama pemanfaatan buah naga super red yang nilai ekonomis dan khasiatnya untuk kesehatan sangat tinggi.
Saat ini hasil produksi CV Wahana Bekti Handayani di antaranya berupa minuman segar buah naga dalam kemasan gelas, sirop segar, sirop fermentasi, selai dan manisan, dengan nama “Minaga”. Warjimin mengakui, harga jual minuman segar buah naga masih relatif mahal, yakni Rp 700,00 per gelas. Hal itu karena usaha kecil menengah tersebut belum mampu memproduksi secara masal.
"Kalau sudah diproduksi massal paling harganya Rp 300,00 per gelas sehingga dapat bersaing. Tapi kalau sirop fermentasi harganya tetap tinggi, yaitu Rp 150.000,00 per botol karena memerlukam proses lama," jelasnya lagi.
Namun dia menyatakan, sirop buah naga yang segar maupun fermentasi memiliki khasiat tinggi bagi kesehatan, karena mengandung zat antioksidan. Dia berani menjamin khasiat itu, karena katanya sudah melalui uji laboratorium.
Dewasa ini Koperasi Wana Bekti Handayani mengembangkan budidaya dan pengolahan tiga varietas buah naga, yaitu buah “Naga Warna”, “Handayani” dan “Mahardika”. Buah naga tersebut ditanam di lahan seluas 3 Ha milik Koperasi Wana Bekti Handayani dan 4 Ha milik para petani anggota koperasi. Pada tahun pertama masa panen yang biasanya
panen setahun sekali, setiap batang tanaman buah naga dari empat batang tiap pancang, dapat menghasilkan buah minimal satu kilogram.
“Harga buah naga segar jenis super red mencapai Rp 8.000,00 per Kg, Harga jualnya memang cukup tinggi, tetapi investasi untuk budidaya buah naga juga relative besar, per hektar bisa sampai Rp 250 juta. Investasi itu selain untuk biaya bibit, pupuk, ongkos tenaga kerja, biaya pembuatan pancang Rp 40.000,00 per buah dan yang paling besar
untuk lahan,” tutur Warjimin lagi.
Kendati demikian, Warjimin optimis masa depan budidaya buah naga dengan pengolahannya cukup cerah. Bahkan, petani daerah lain terutama luar Jawa, memesan banyak bibit. Bengkulu, misalnya, memesan 10.000 batang bibit yang sudah siap kirim untuk dibudidayakan di sana (PRLM)

15 Agustus 2015

Awas Miras Lokal Berethanol

 Dentuman musik keras membuat asyik bergoyang. Di lantai dansa ini, orang dari berbagai kalangan tumpah ruah. Mereka datang dengan berbagai alasan. Ada yang buang stres, melepas kepenatan, atau sekadar hang out bersama kerabat.

Namun, tak semuanya bergoyang mengikuti musik. Di pojok lain sebagian orang memilih duduk sambil menikmati sajian minuman yang dihidangkan bartender.

Godaan minuman alkohol menyapa semua pengunjung. Beragam minuman alkohol impor disediakan. Pilihan tentu ada pada pengunjung. Mau melewatkan malam sambil menenggak miras atau yang non-alkohol.

Tapi, tunggu dulu mempunyai hasrat menenggak "air api" ini tak selalu harus merogoh kocek dalam-dalam di klub malam. Coba lihat apa yang dilakukan para pemuda.

Bukan minuman alkohol mahal yang dicari, tapi ciu. Minuman keras kelas lokal yang cukup terkenal di Pulau Jawa ini yang jadi pilihannya. Selain kadar alkohol yang tak kalah dahsyat dengan minuman bermerek asal mancanegara, harganya juga berlipat kali lebih murah.

Ternyata lumayan gampang mendapatkan minuman ini. Sebuah tempat yang tak terlihat seperti warung ternyata diam-diam menjual miras jenis ciu.

Air api sudah dalam genggaman, lanjut dengan pesta miras. Supaya rasa lebih nikmat, ciu dioplos dengan minuman lain. Sepintas mirip air putih. Jangan terkecoh kadar alkohol minuman ini sangat tinggi.

Ditemani cemilan seadanya gelas demi gelas miras mereka sesap. Semakin banyak menenggak kesadaran pelan-pelan hilang.

Tapi sadar atau tidak menenggak minuman keras abal-abal dengan racikan tak jelas seperti ini, sama saja dengan bercanda dengan maut. Di awal tahun saja tercatat sudah banyak kasus keracunan miras yang tak jarang berujung pada kematian.

Seperti yang menimpa empat pemuda di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tragis. Akibat menenggak miras abal-abal yang dioplos dengan minuman energi mereka sempat pingsan sebelum akhirnya harus kehilangan nyawa. Satu dari kelompok pemuda ini masih bisa diselamatkan.

Prihatin dengan berbahayanya miras racikan lokalan, tim Sigi mencoba cari tahu lebih banyak seluk beluk minuman keras abal-abal ini. Salah satunya dengan menyambangi sentra pembuatan ciu di salah satu kota kecil di Jawa Tengah.

Ada satu desa yang cukup kesohor sebagai salah satu sentra pembuatan ciu. Aroma ciu yang menyengat menyerbu indera penciuman. Saat masuk desa ini, informasi yang didapat dari sejumlah informan menyebutkan sebagian rumah di sini memang memproduksi ciu. Tak ada yang janggal, tapi tetap waspada karena ada kabar keberadaan orang asing di desa akan dicurigai.

Agar tak dicurigai, pura-pura ingin membeli ciu. Lumayan aneh kedatangan disambut ramah. Tanpa ragu sang pembuat sekaligus penjual ini menyodorkan segelas ciu untuk dicoba. Permintaan membeli beberapa jeriken ciu pun langsung dipenuhi.

Bisnis "air api" ini bisa lancar ternyata karena setoran ke aparat jadi menu rutin bulanan. Modal bekingan aparat tak cukup karena bagi pembeli alias agen membawa ciu keluar dari daerah ini tetap tak aman. Salah satu agen ciu yang dijumpai bahkan mengaku untuk membawa keluar ciu dari desa ini selalu kucing-kucingan dengan aparat.

Penelusuran bergeser ke lokasi lain untuk mencari produsen ciu lain untuk menjelaskan proses pembuatan minuman keras yang sudah diproduksi turun temurun ini. Tetes tebu ternyata yang jadi cikal bakal ciu. Tempat penyimpanannya sangat tidak higienis.

Tetes tebu kemudian ditampung dalam drum-drum ukuran besar hingga buih-buihnya hilang. Proses selanjutnya dimasak. Tetes tebu yang dimasak menghasilkan uap yang kemudian ditampung. Uap inilah yang menjadi minuman ciu dan mengandung alkohol sangat tinggi.

Sang produsen ciu diminta untuk mengukur kadar alkohol dengan alat tes sederhana. Hasilnya cukup fantastis. Alat ukur menunjukkan ciu segar ini mengandung alkohol hampir 60 persen.

Ciu yang baru saja disuling coba dites di laboratorium UGM. Saking tingginya kadar alkohol, ciu segar ini sangat mudah terbakar layaknya bensin. Sungguh mengerikan membayangkan seperti apa dampaknya bila minuman seperti ini dikonsumsi terus menerus.

Tapi lagi-lagi sekeras dan seberbahaya apapun ciu, bisnis miras ini masih tetap subur dan diminati karena keuntungannya juga cukup menggiurkan.

Keseriusan aparat memberangus peredaran ciu diuji. Belum lama ini petugas menggagalkan peredarannya setelah menghentikan mobil yang membawa ciu keluar dari desa penghasil ciu. Barang bukti yang didapat cukup banyak.

Ironisnya, mobil pengangkut ciu ini ternyata milik salah seorang anggota Dewan di daerah. Mungkin saja ia ingin ikut mereguk manisnya bisnis minuman haram ini. Penangkapan ini kemudian disusul penggerebekan-penggerebekan di tempat penyimpanan ciu lainnya yang terendus aparat.

Bisnis ciu mungkin mendatangkan keuntungan bagi segelintir orang. Tapi, tak semua diuntungkan. Selain membahayakan kesehatan yang dirugikan justru masyarakat sekitar desa penghasil ciu.

Contohnya, puluhan hektare sawah tercemar limbah dari industri ciu rumahan. Tak hanya gagal panen, petani juga dirugikan karena terpaksa gagal tanam akibat lahan tercemar limbah ciu. Padahal, sawah ini adalah satu-satunya mata pencaharian bagi mereka.

Tapi yang paling penting adalah dampak buruk ciu bagi tubuh. Beberapa tahap pengujian dilakukan dan hasilnya terbukti ciu mengandung kadar ethanol sangat tinggi.

Ethanol atau etil alkohol sebenarnya lumrah digunakan dalam pengolahan makanan dan minuman, namun dalam kadar yang rendah. Masalah muncul bila ethanol dikonsumsi terlalu sering dan dalam dosis tinggi. Dampaknya bagi tubuh pun tidak main-main, sangat mengerikan dan berisiko besar terhadap kesehatan.
sumber: Liputan6.com

22 Juni 2015

Arak Bali Ekstrem Ini Berisi Janin Monyet dan Binatang Lain

Arak Bali Ekstrem Ini Berisi Janin Monyet dan Binatang Lain
Tribun Bali
Janin monyet bahan baku yang ditemukan di dalam arak ekstrem buatan Putu Arsa. 


Tuak, jenis minuman tradisional yang mudah didapatkan di Desa Tenganan, Pengringsingan, Karangasem, Bali. Setiap pagi, banyak masyarakat memanen tuak di hutan di utara desa.
Belasan liter tuak tersebut akan diambil pengepul dari Denpasar, atau beberapa daerah lain. Bukan hanya tuak, minuman jenis arak juga sudah lazim diminum di desa yang termasuk satu dari tiga desa Bali Aga tersebut.
Namun satu minuman jenis arak yang ditemui Tribun Bali di salah satu rumah warga Desa Tenganan tergolong ekstrim. Arak tersebut berisi janin binatang dan jenis tumbuhan seperti akar pohon dan gingseng.

Binatang tenggiling satu dari sekian bahan baku arak ekstrem buatan Putu Arsa.
Seorang warga bernama Putu Arsa memilikinya. Sebuah botol kaca berisi berbentuk bola berdiameter sekitar 20 sentimeter miliknya berisi arak berikut janin-janin binatang.
“Isinya ada janin tenggiling, janin monyet, kuda laut, daging ikan paus, dan lain-lain,” ujar Putu Arsa saat ditemui Tribun Bali, Senin (9/6/2015) di rumahnya. Semua bahan-bahan itu didapatkannya sejak 2007 silam.
“Tidak bisa mencari ini. Ini bahan-bahannya tidak sengaja mencari, namun kebetulan saja. Jadi kalau ada orang yang berburu, lalu kebetulan ada yang sedang hamil, saya ambil itu,” ujarnya.
Namun arak itu sudah beberapa tahun lalu. Saat ini, berburu sudah dilarang di hutan Desa tenganan. Selain janin binatang, beberapa bahan dari tanaman seperti gingseng juga dimasukkan ke dalam minuman ekstrim tersebut.
Untuk membuat “arak janin” ini juga tidak sembarang arak yang dipakai. Arak yang dipakai harus arak Bali nomor satu, atau arak Bali dengan kualitas terbaik.
“Minuman ini bisa tahan lama. Tidak setiap saat juga mengkonsumsinya. Nanti kalau pun habis tinggal diisi araknya lagi,” ujar Putu Arsa kemudian.
Untuk khasiatnya, Putu Arsa tidak menjelaskan secara detail. Tribun Bali pun akhirnya memutuskan mencoba merasakan minuman ekstrim tersebut.
Saat masuk ke mulut, rasa arak tak jauh berbebeda dengan arak normal. Rasa pahit khas arak Bali mendominasi, namun perbedaannya ada sedikit rasa anyir. Kemungkinan itu efek dari janin-janin yang sudah lama direndam.
Arak tersebut juga membuat efek "pusing" lebih cepat daripada arak biasa. Putu Arsa tidak berniat menjual arak tersebut, karena hanya untuk konsumsi pribadi saja. Kemungkinan arak janin itu yang terakhir karena bahan bakunya susah dicari.

TRIBUNNEWS.COM

26 Mei 2015

Bikin onar, remaja di Kupang dilarang tenggak miras sopi di jalanan


Bikin onar, remaja di Kupang dilarang tenggak miras sopi di jalanan
Ilustrasi minum alkohol. ©shutterstock.com/thaumatrope


Wali Kota Kota Kupang, Jonas Salean, memerintahkan kepada aparat keamanan di kota Kupang untuk menangkap dan menindak tegas terhadap anak-anak muda yang sering mengonsumsi minuman beralkohol di pinggir jalan.

"Saya mengharapkan agar aparat kepolisian dan Satuan pamong praja bisa menangkap dang memberikan sanksi bagi anak-anak muda tersebut sehingga bisa membuat jera," katanya kepada wartawan di Kupang, Rabu (13/5).

Dia menjelaskan, aksi kriminalitas yang sering terjadi di Kupang tersebut diakibatkan oleh banyaknya anak muda yang minum minuman beralkohol kemudian mabuk yang berakibat pada keributan dan aksi-aksi kriminalitas lainnya.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya telah membuat peraturan daerah yang dapat mengatur tentang aturan penjualan dan penggunaan minuman keras di Kupang.

Bagi warga NTT, khususnya Kota Kupang, minuman sopi tidak bisa dilarang untuk beredar di pasaran, sebab sebagian besar masyarakat Kupang, menjadikan sopi sebagai lahan berbisnis untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Bahkan sebagian keluarga berhasil menyekolahkan anak-anaknya dari hasil menjual sopi," katanya seperti dilansir Antara.

Dia menilai, jika pemerintah kota melarang beredar minuman sopi maka, masyarakat yang bertahun-tahun mendapatkan uang dari hasil penjualan sopi itu akan kebingungan mencari pekerjaan baru.

"Perda tersebut akan segera diusulkan ke anggota dewan Kota Kupang untuk segera dibahas, agar bisa mengatur peredaran sopi dengan begitu anak-anak muda yang sering minum di pinggir jalan juga bisa diamankan," tuturnya.

Namun bagi mereka yang meminum minuman sopi di rumah tetap diizinkan asalkan tidak membuat keributan dan tidak meresahkan warga masyarakat sekitar.

Dia juga mengakui minuman sopi sampai saat ini belum memiliki standar pengujian. Namun jika dilihat dari tradisi, minuman itu merupakan kebudayaan turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat NTT dan merupakan suatu kebudayaan.

"Kebanyakan pembuat sopi menggunakan ramuan tradisional dan menggunakan campur akar-akaran namun belum pernah ada yang meninggal karena keracunan sopi, tapi kalau mabuk ada," tambahnya.
[www.merdeka.com]

21 Mei 2015

Sopi, Miras Tradisional Maluku yang Picu Perkelahian

Miras (Ilustrasi)
Miras (Ilustrasi)
 
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Maluku, Abidin Wakano mengatakan, sopi (minuman keras tradisional Maluku) harus ditertibkan. Sehingga tidak diminum di sembarang tempat, terutama di tempat umum.

"Untuk Ambon, Maluku secara luas, peredaran minuman keras secara bebas masih terjadi di mana-mana. Termasuk juga minuman keras tradisional yang masih menjadi problematika bagi kita," katanya di Ambon, Rabu (22/4).

Ia berpendapat, mungkin sosialisasi yang belum kuat dalam penertiban sopi. "Selain itu, orang menganggap persoalan ini sepele, sudah menjadi kebiasan orang Maluku untuk minum minuman keras," imbuhnya.

Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 74 tahun 2013 dan Perturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 6 tahun 2015, terkait pembatasan minuman beralkohol di level pengecer, sopi juga harus ditertertibkan karena sering menjadi pemicu perkelahian antarpemuda yang terkadang berujung pada pertikaian antarmasyarakat di desa-desa.

Selain itu, kebiasaan mengkonsumsi minuman keras dapat merusak kesehatan, sehingga jika dipandang dari segi 'untung-rugi', sopi memiliki lebih banyak mudarat dari pada maslahat. "Tidak bisa dipungkiri kalau kita di Maluku kebanyakan yang menjadi pemicu perkelahian adalah pemuda-pemuda yang mabuk," ucap dia.

"Selain itu, orang juga meminum minuman keras di ruang publik secara bebas, di pangkalan ojek, emperan rumah, ini kan juga tidak nyaman, mengganggu kenyamanan."

Abidin yang juga Direktur Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) mengatakan, pemerintah daerah harus memikirkan solusi tepat untuk menertibkan sopi. Sebab, minuman keras yang terbuat dari hasil penyulingan nira tersebut, juga menjadi salah satu sumber pendapatan bagi sebagian masyarakat Maluku yang tinggal di pedesaan.

"Peraturan daerah memang penting tapi sopi juga menjadi sumber pendapatan masyarakat di perkampungan, harus dipikirkan alternatif yang lebih produktif, proses perdagangannya juga bisa menjadi 'home industry' yang benar-benar menjanjikan untuk kehidupan masyarakat," ucapnya. (www.republika.co.id)

18 Mei 2015

Di NTT, Minuman Keras Masih Diperlukan untuk Acara Adat

Di NTT, Minuman Keras Masih Diperlukan untuk Acara Adat
Miras Brem Bali. Wikimedia.org
Minuman keras berlabel merek internasional dan tradisional di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dijual bebas. Minuman beralkohol ini bisa ditemukan di minimarket, pertokoan, pasar, dan bahkan lapak di tepi jalan.

Di pertokoan, misalnya, masih ditemukan bir dan scotch whisky, seperti Chivas Regal serta Johnnie Walker Red Label dan Black Label, yang didatangkan dari Timor Leste. Sedangkan minuman tradisional, seperti sopi atau moke, bisa dibeli di sejumlah pasar, lapak tepi jalan, serta rumah warga.

Sopi, minuman tradisional asal NTT, memiliki nama yang berbeda di beberapa kabupaten. Di Ngada dan Maumere, minuman itu disebut moke. Ende menyebutnya detu wollo. Timor Tengah Utara menamainya tuak nakaf inzana. Sedangkan di Pulau Sumba minuman itu biasa disebut peci.

Yanto, salah satu pedagang sopi, mengaku menjual minuman keras tradisional itu untuk mendukung perekonomian keluarga. "Saya tidak punya kerja, sehingga saya hanya menjual moke," kata Yanto kepada Tempo, Kamis, 16 April 2015.

Yanto mengatakan moke yang dia jual didatangkan dari Pulau Flores. Dia menjual kembali minuman itu kepada masyarakat di Kota Kupang dengan harga yang lebih tinggi. Moke tersebut dijualnya dalam kemasan botol plastik minuman.

"Satu botol biasa dijual dengan harga Rp 40-50 ribu per botol, tergantung pada klasifikasi kelasnya," kata Yanto.

Pemerintah Provinsi NTT belum memiliki peraturan daerah tentang pelarangan ataupun pelegalan minuman keras tradisional di daerah itu.

Adapun Viktor Lerik, anggota DPRD NTT, mengatakan tegas menolak rencana DPR membuat Undang-Undang Minuman Keras.

"Saya sangat tidak menyetujui UU itu," katanya. Menurut dia, minuman keras tradisional di NTT biasanya digunakan dalam acara adat dan hajatan, sehingga peredarannya tidak mungkin dilarang. "Ini masalah adat, budaya, dan tradisi orang di NTT," ucapnya.

DPR berencana membahas rancangan beleid tentang konsumsi alkohol. Salah satu poin dalam draf itu menyebutkan penikmat minuman beralkohol akan dipenjara. (www.tempo.co)

12 Mei 2015

Peredaran Tuak di Desa Petaling Muba Semakin Jadi


Peredaran minuman keras (miras) yang semakin menjadi-jadi membuat sesuatu kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda. Pasalnya miras jenis tuak yang saat ini peredarannya sudah merambah di Desa Petaling, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mulai menyentuh anak-anak dibawah umur dan hal tersebut bisa merusak generasi penerus bangsa.
“Kami selaku warga sudah mulai resah akan peredaran tuak, padahal pihak pemerintah desa sudah sering memberikan imbauan agar tidak menjual lagi. Namun imbauan tersebut tidak pernah digubris, setiap malam warung tuak yang ada semakin ramai saja,”kata Edison, Senin (11/5).
Ia dan warga  lainnya berharap ada tindakkan nyata langsung dari Pemerintah Kabupaten Muba, dalam menekan tindak penjualan minuman tuak di desa petaling. “Kami minta kepada pemkab Muba untuk menutup warung tuak yang ada, dan kita juga meminta pemerintah melalui dinas terkait untuk bisa mengecek langsung ke lapangan,”ungkapnya.
Terkait hal ini, Kepala Desa Petaling Edi Sapari, mengaku jika pihaknya telah mendapatkan laporan adanya warung tuak yang keberadaanya telah meresahkan warga. Namun, untuk melakukan penertiban warung tuak tersebut pemerintah desa tidak memiliki wewenang. “Mengenai anak-anak yang mengkomsumsi tuak hal tersebut sangat kita sayangkan, kita sudah mencoba memeberikan peringatan terhadap pemilik warung tuak namun masih bandel untuk tetap menjual,” katanya.
Sebelumnya Bupati Musi Banyuasin (Muba), mengintruksikan agar apapun bentuknya minuman keras (miras) harus di berantas karena dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
“ Warung remang-remang dan minuman keras harus diberantas dan Pol PP harus bisa menertibkan hal tersebut,” kata Bupati Muba, H Pahri Azhari ketika acara pemusnahan barang bukti di Kantor Kejari Sekayu beberapa waktu lalu.(http://palembang.tribunnews.com)

14 April 2015

Moke, Minuman Pergaulan Simbol Penerimaan Masyarakat Flores

Moke, Minuman Pergaulan Simbol Penerimaan Masyarakat Flores Moke putih adalah nira hasil sadapan dari pohon lontar atau pohon enau. (CNN Indonesia/Windratie)
 
  Seremoni baru saja usai. Adat istiadat di Manggarai Timur, Flores, tamu harus dihibur warga dengan bergoyang.

Seorang pemuda membawakan gelas dan minuman di botol berwarna hijau, dia berikan kepada tamu dan orang-orang terhormat di situ. Mereka meneguk minuman yang diisi hanya seperempat gelas.

Bau alkohol langsung meruap ke udara. Satu gelas diberikan juga ke saya. Tidak banyak, isinya sekitar satu ruas jari dari dasar gelas. Saya coba sedikit, rasanya pahit, alkohol tercium keras sekali.

“Langsung sekaligus diminum,” kata yang lain. Saya turuti, teguk sekaligus. Tubuh saya langsung terasa hangat. Hangat sekali, di tengah hawa pegunungan Golo Wangkung yang beku.

Sensasi hangat itu berasal dari minuman moke atau sopi. Minuman keras ini berasal dari Kabupaten Manggarai. Dua-duanya berasal dari penyulingan pohon enau. Di Manggarai, sebutan sopi lebih populer. Sementara, di Manggarai Timur, Aimere, dan Bajawa, masyarakat menyebutnya moke.


masyarakat Manggarai. Moke atau sopi terbuat dari bahan alami. Tidak ada campuran zat kimia berbahaya bensin atau spiritus, seperti yang sering ditemukan di Jawa. Efek sampingnya pun tak begitu besar, tidak seperti oplosan yang banyak makan nyawa.

“Kalau kita sudah minum, lihat saja mereka itu besok santai sekali. Menyapa orang akrab, padahal sebelumnya mereka, 'iya pak', masih sopan. Minuman ini bisa bikin orang spontan-spontan saja,” kata Pata, fasilitator Komunitas Kreatif, sebuah program pemberdayaan dari Yayasan Kelola.

Moke atau sopi digunakan untuk menyambut kedatangan tamu. Selain itu, juga untuk upacara adat, dan kegiatan resmi lain. Sedikit sopi yang diberikan malam itu adalah simbol, saya sudah diterima sebagai keluarga baru.

Moke adalah minuman tradisional Flores. Dia dibuat dari hasil penyulingan buah dan bunga pohon lontar atau enau. Proses pembuatannya sangat tradisional, diwariskan secara turun-temurun, dan dilanjutkan sampai sekarang.

Di Manggarai, pohon enau tersebar di penjuru Manggarai, dari Barat ke Timur, sepanjang wilayah yang saya lintasi. Di kebun-kebun masyarakat, proses pembuatan moke dimulai. Diperlukan keuletan, kesabaran, dan keahlian khusus untuk menghasilkan moke kualitas terbaik.

Untuk mendapatkan satu botol moke butuh waktu sampai lima jam. Menanti tetesan demi tetesan dari alat penyulingan yang terbuat dari bambu. Kendati sopi dan moke sangat melekat dalam budaya, masyarakat paham aturan. Minum secukupnya saja, jangan sampai buat kekacauan dengan orang lain.

“Ada juga pemuda yang kerjanya minum-minum, tapi tetap aman karena mereka terkontrol,” ucap Pata tentang pengalamannya selama Golo Wangkung. “Saya tidak menyebut ini tradisi, tapi lebih ke kebiasaan setiap ada acara di Golo Wangkung.”

Demikian pula dengan ritual lain di Flores yang luar biasa banyak, sopi selalu ada. Rinus, juru mudi pemuda asli Cancar Manggarai Timur itu juga mengakui. “Orang sini walau sudah minum bertong-tong sopi tidak akan berkelahi.”

Moke dengan kualitas terbaik sering disebut masyarakat dengan BM atau bakar menyala. “Kalau disulut dengan api dia akan menyala,” ucap Rinus. Moke di tingkat terbaik ini diminum dianjurkan untuk diminum sedikit saja karena kadar alkoholnya yang sangat tinggi.

Sementara, jenis moke putih lebih cocok diminum oleh perempuan, karena tingkat alkohol yang aman. Ada ramuan rahasia sopi saya dapat dari Rinus. Ramuan ini sangat berkhasiat, apalagi jika badan lelah sehabis pulang kerja, katanya.

“Sedikit saja (moke),” kata Rinus sambil menunjukkan ujung jari telunjuknya. “Lalu dicampur dengan telur, madu, advokat. Itu, ooooiii!” katanya dengan seruan yang bermakna 'enak sekali' itu. Rinus bilang, moke paling enak kalau dimakan dengan jagung rebus.

Masyarakat Manggarai Timur, dan Flores pada umumnya, sangat akrab dengan moke atau sopi. Namun, minuman tradisional ini kurang didukung keberadaannya sebagai salah satu aset daerah. Pemda mengeluarkan peraturan daerah tentang minuman beralkohol.

Minuman keras seperti moke akan diawasi dan dikendalikan, masyarakat pun menolaknya. Menurut mereka, pemerintah daerah seharusnya melegalkan moke dengan kadar tertentu. Mereka ingin pelatihan para pembuat moke seharusnya diberikan untuk meningkatkan kualitas moke.

Moke sampai sekarang belum masuk ke dalam daftar untuk dijadikan buah tangan para wisatawan.

“Pemerintah kabupaten ini bingung ini dengan undang-undang pelarangan penjualan minuman keras. Tapi kalau tidak mau sopi ya kopi. Saya lihat sama saja,” kata Pata. (http://www.cnnindonesia.com)

19 Desember 2014

Industri Rumahan, Produksi Arak di NTT Sulit Dihentikan

Ilustrasi miras oplosan
Ilustrasi miras oplosan (sumber: ANTARA FOTO)

Produksi minuman keras (miras) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sulit untuk dihentikan. Sebab, arak atau dikenal dengan sebutan sopi tersebut merupakan produksi rumah tangga yang tersebar di kampung-kampung.
Selain itu, tempat produksinya pun berpindah-pindah. Terkadang, proses pembuatannya dilakukan di kebun dengan peralatan tradisional. Dengan harga yang murah, Rp 25.000 per botol, tak heran banyak dikonsumsi masyarakat NTT.
"Polisi hanya bisa menangkap saat minuman keras itu telah jadi dan beredar di masyarakat. Arak dengan julukan bakar menyala, menjadi minuman tradisional yang mudah diperoleh. Harganya pun terjangkau oleh masyarakat kecil hingga menengah,” kata Kepala Bidang Humas Polda NTT, AKBP Agus Santoso, kepada SP, di Kupang, NTT, Sabtu (6/12).
Menurut pantauan SP, hampir semua tempat produksi sopi tidak memiliki izin. Pembuatannya pun bisa dibilang musiman namun dengan jumlah tak terbatas setiap tahunnya. Terlebih lagi, budaya di NTT pada saat melakukan upacara adat harus ada sopi.
Salah satu penjual sopi di Kota Kupang, Alo, mengatakan, minuman keras yang dijualnya tidak dicampuri bahan-bahan lain alias murni.
“Minuman kami tanpa dicampuri dengan bahan-bahan lainnya alias asli bakar menyala. Kami menjual tanpa izin karena untuk kalangan keluarga dan teman-teman yang menjadi langganan,” kata Alo.
Alo membeli sopi dari daereh Flores dan Kisar, Provinsi Maluku. "Jika Arak atau sopi itu tertangkap oleh polisi di pelabuhan, kami pasrah saja, karena tidak memiliki izin,” jelas Alo.
Alo juga mengungkapkan, bahwa dulunya ia adalah pembuat sopi di Kupang. Namun, penertiban yang dilakukan polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) semakin ketat, produksi itu dihentikan.
Dikatakan Alo, bahan utama pembuatan sopi sangat mudah didapat dan banyak dijual di pasar-pasar. “Kami masak sopi menggunakan gula rote atau gula sabu yang banyak terjual di pasar Kota Kupang. Periuk tanah serta bambu untuk menyuling. Hasilnya, sopi asli bakar menyala tidak dicampur bahan lainnya,” jelas Alo.
Sepanjang tahun 2014 Polda NTT berhasil mengamankan 7.100,5 liter miras lokal jenis sopi. Polda NTT juga telah menangkap 40 orang terkait peredaran miras. Dari data Polda NTT, akibat miras tersebut, telah terjadi 48 kasus kriminal seperti KDRT, pemerkosaan, perkelahian antar warga, dan kecelakaan lalu lintas.

Sumber:Suara Pembaruan

3 Desember 2014

Bahan yang Biasa Dipakai untuk Oplosan Cukrik

Bahan yang Biasa Dipakai untuk Oplosan Cukrik

Minuman keras cukrik oplosan menewaskan belasan warga Mojokerto pada awal bulan ini. Namun, warga pengkonsumsi arak Jawa tersebut, Jeck, mengatakan cukrik tanpa oplosan ibarat air laut tanpa garam. 

“Istilahnya kalau hanya cukrik saja itu putihan, Mas. Kalau hanya putihan, ya, kurang bisa bikin mabuk. Istilahnya kurangnendang,“ kata Jeck ketika diwawancarai oleh Tempo, Minggu, 19 Januari 2014.

Menurut Jeck, bahan-bahan yang biasa dijadikan oplosancukrik cukup beragam. Di antaranya bensin, minuman ringan,lotion antinyamuk, dan spiritus.

Dia menambahkan, bahan-bahan yang digunakan untuk oplosan biasanya tergantung dari keinginan konsumen maunya yang mana. “Terkadang ada yang memakai racun tikus juga. Kalau saya, biasanya soft drink,” katanya.

Saat ini cukrik menjadi target operasi polisi setelah kasus minuman keras itu menewaskan lima orang di Sidoarjo. Selain itu, cukrik telah menewaskan 14 orang warga Mojokerto setelah menenggak cukrik pada malam pergantian tahun. Bahkan, baru-baru ini seorang pegawai negeri sipil salah satu perguruan tinggi di Surabaya ditangkap karena kepergok menjual cukrik. (www.tempo.co)

28 November 2014

Menikmati Santapan di Atas Jok Vespa

Tribun BaliWarung Garasi di Ubud, Bali.
"INI bukan warung yang isi display motor, tapi ini garasi saya yang isi tempat makan," ujar I Ketut Gede Budastra, pemilik Warung Garasi Ubud yang berlokas di Jalan Monkey Forest, Ubud.
Berkonsep warung, tempat makan satu ini bukan seperti tempat lain yang memasang motor-motor antik sebagai pajangan. Namun, tempat ini memang sebuah garasi yang menjadi 'tempat tinggal' Vespa-Vespa dan beberapa motor tua milik Gede Budastra, yang kemudian disisipkan warung makan.
Berasal dari keluarga tak lepas dari makanan dan juga senang memasak, dari dulu semua memang punya tempat makan. Selain itu, menurutnya, untuk di daerah pusat Ubud ini sangat jarang bisa ditemui tempat makan lokal yang juga menyajikan hidangan lokal.
Interior pun dirancang sendiri dengan berbagai spare part motor. Dari 30-40 koleksi Vespa, tiga unit di antaranya dijadikan tempat duduk tamu Warung Garasi. Spot yang menggunakan tempat duduk dari vespa ini menjadi satu yang menarik dan kerap dipilih sebagai tempat duduk oleh para tamu.
Berbagai properti dari barang bekas diterapkan di sini. Pada meja, tampak baut-baut dan juga skrup yang sengaja dijadikan dekorasi. Hingga yang menjadi wadah tisu pun, Gede Budastra menggunakan piston Vespa.
Untuk konsep makanan, Warung Garasi menonjolkan masakan khas Indonesia. Mulai dari nasi campur yang bisa dipilih untuk masing-masing lauk dan sayur, juga menu ala carte untuk varian lainnya.
Untuk menu ala carte, Warung Garasi menawarkan hidangan yang tak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal dan juga para bule. Tipikal Indonesia, seperti nasi goreng, mi goreng yang jadi favorit bule.
Bahkan, wine yang ditawarkan terbuat dari brem lokal. Ada juga Two Stroke, wine homemade yang dicampur dengan arak bali.
Bicara yang jadi best seller, menurut sang pemilik yang juga hobitouring Vespa dan gowes sepeda, nasi campur tak hanya diincar oleh lokal namun juga para bule.
Tak ketinggalan, ayam goreng ala Warung Garasi pun jadi favorit. Berbeda dari ayam goreng kebanyakan, ayam goreng disajikan dengan saus cabai di atasnya, yang kemudian memberikan cita rasa manis, pedas, dan gurih saat dinikmati.
Selain itu, Kare Ayam, Fu Yung Hai, Gado-Gado, Soto Ayam, dan berbagai menu ala carte lainnya, hingga Lumpia yang biasa dipesan sebagai starter ataupun cemilan, bisa jadi pilihan.
Sementara untuk penutup, tersedia pisang goreng, dadar garasi, dan bubur injin. Hidangan yang ditawarkan seluruhnya diolah dan disajikan tanpa menggunakan Mono Sodium Glutamat (MSG) dan jenis penyedap berbahan kimia lainnya.
Kecuali Minggu, Warung Garasi buka dari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 10.00-21.00 Wita. Mulai dari para masyarakat lokal, turis asing dan juga ekspat kerap mengunjungi tempat ini, baik untik bersantap di tempat atapun take away.
Para anak muda Denpasar juga kerap kali datang dari jauh untuk menikmati sajian dan suasana di sini. Bahkan banyak juga musisi lokal Bali yang sering menyambangi tempat satu ini. (http://travel.kompas.com/)

26 November 2014

'Lapen' Oplosan Alkohol dan Air dari Yogya

'Lapen' Oplosan Alkohol dan Air dari Yogya

Lapen dikenal sebagai minuman keras khas Yogyakarta sejak puluhan tahun silam. "Bahan utamanya ya cairan alkohol," kata Sakti Darmianto, mantan pedagang Lapen, Jumat, 17 Januari 2014. 

Sakti sudah 14 tahun menjual lapen. Usianya kini sudah 54 tahun. Dia berhenti berjualan lapen sejak tiga tahun lalu. Sempat berpindah tempat jualan, terakhir warungnya berada di depan gedung SMP Maria Immaculata Marsudi Rini di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta. "Sekarang (tempat warung) jadi lokasi halte (Trans Jogja)," kata Sakti, yang kini petugas keamanan pertokoan di Gondomanan. 

Warga Sayidan itu meracik lapen dari cairan alkohol murni. Dia biasa memilih cairan alkohol dengan kadar kemurnian sekitar 85 persen. Alkohol lantas dicampur air dengan takaran 1 (untuk alkohol) dan 4 atau 5 (untuk air). Campuran itu ditambah bahan perasa untuk kue semisal strawberry, melon, apel, atau rasa buah lainnya. 

Rasa buatan itu membuat sensasi lapen seperti terbuat dari fermentasi buah-buahan. "Jadi bukan dari buah-buahan," dia mempertegas penjelasan tentang bahan utama lapen. Semula, lapen berasal dari fermentasi buah-buahan. Rupanya minuman keras ini tak sembarangan bisa dibuat. 

Bahkan Sakti sendiri gagal ketika mencoba meracik lapen dari fermentasi sawo. Buah itu diolah sedemikian rupa dengan harapan menghasilkan saripatinya. "Berkali-kali nyoba, tapi gagal," kata dia. 

Karena itu, Sakti tak yakin ada lapen yang benar-benar dibuat dari fermentasi buah-buahan. Apalagi fementasi buah rumit dan tak sebanding dengan biaya produksinya. Dia pun memilih menjual lapen dari oplosan alkohol dan air. Bahkan di sejumlah tempat di Yogyakarta, ada pedagang yang mencapurnya dengan susu. "Itu namanya super," dia menyebut lapen dan campuran susu. (www.tempo.co)

23 November 2014

Baram, Tuak Khas Kalimantan

Jika di Jogyakarta dikenal lapen sebagai salah satu teman menikmati malam selain rokok kretek, maka lain lain jika sudah berada di Kalimantan Tengah. Bagi penikmat minuman beralkohol, pilihan minuman keras lokal penghangat badan yang patut dicoba adalah baram.

Tidak diketahui dengan pasti mulai dari kapan orang Dayak mengenal teknik fermentasi dan penyulingan baram ini, yang jelas itu telah menjadi tradisi selama beratus-ratus tahun karena baram digunakan dalam ritual sebagai sesaji untuk para roh leluhur. Perlu bakat dan keterampilan khusus serta ketelatenan untuk menghasilkan baram yang nikmat, karena pembuatannya melalui banyak proses peracikan berbagai macam bahan dan penakaran yang pas. Resep dan keterampilan membuat baram ini diwariskan secara turun temurun, kebanyakan dilakukan oleh kaum perempuan.
Bahan dasar pembuatan baram antara lain nasi ketan, enau, nila, serta ragi. Umumnya beras ditumbuk sampai halus lalu dicampur dengan berbagai rempah-rempah, seperti kayu manis, lengkuas, dan adas. Setelah itu dibuat menjadi adonan dengan dicampurkan air dan kemudian dibentuk bulatan-bulatan sekepal tangan. Adonan yang akan dibuat menjadi ragi ini kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Biasanya berlangsung beberapa hari, sampai seminggu.
Selanjutnya beras ketan dimasak dengan gula, lalu dibubuhi ragi yang tadi telah dibuat sehingga menjadi tape. Bahan ini akan disimpan dalam wadah tertutup selama beberapa hari, biasanya sekitar seminggu.

4.bp.blogspot.com/_9Le4HEkblmQ/STQgasV7WYI/AAAAAAAAAMA/7L3DO-yXh4o/s320/PotongPantan&DrinkingBaram.jpg
Semakin lama disimpan, maka kadar alkohol baram akan semakin tinggi dan memabukkan. Baram pada umumnya memiliki kadar alkohol di atas 10% – 20%, hasil dipendam selama seminggu lebih, dan rasa baram akan manis. Kadar alkohol baram dapat diukur dari bau dan kejernihannya. Baram yang berbau keras artinya memiliki kadar alkohol yang tinggi. Baram juga, semakin bening dan jernih, maka semakin tinggilah kadar alkoholnya, bisa mencapai 80% jika dipendam selama berbulan-bulan hingga setahun. Baram yang terlihat agak keruh kadar alkoholnya rendah dan rasanya agak masam.
Baram sendiri sebagai salah satu unsur penting dalam ritual penghormatan roh leluhur, juga memegang peranan penting dalam penyambutan tamu atau sekadar pelengkap jika sedang mengobrol dengan teman. Baram disuguhkan kepada tamu besar yang disambut, tamu dalam ritual Dayak, atau mereka yang semalam suntuk bermain dadu gurak (semacam judi yang biasanya berlangsung beberapa malam jika ada orang yang meninggal dunia).
Seorang peminum baram akan terbawa emosinya sesuai lingkungan sekitar. Misalnya dalam suasana pesta yang meriah, maka si peminum akan ikut tertawa dan bergembira. Namun tergantung dari kebiasaan masing-masing saat mabuk. Beberapa orang cenderung diam, namun ada juga yang ribut sendiri, bahkan ada yang lancar bercerita. Baram akan sangat memabukkan jika dikonsumsi dalam jumlah yang lumayan banyak. Efek memabukkannya bisa berlangsung dua sampai tiga hari, dengan kepala terasa agak pusing, tubuh cenderung lemas, dan penglihatan sedikit nanar. Penetralisirnya adalah dengan meminum air asam Jawa. Efek mabuk yang lama ini tidak berlaku bagi mereka yang sudah terbiasa meminum baram, terutama masyarakat Dayak di pedalaman.
Di Kota Palangka Raya dan sekitarnya, selain dalam ritual adat, umumnya baram dapat ditemukan di pasar tradisional dan toko minuman keras. Namun biasanya untuk mendapatkan baram yang enak dan murah, dapat dicari di rumah-rumah warga yang memang memproduksi baram (ilegal) secara industri rumahtangga. Sekarang ini harga satu liternya sekitar tujuh sampai sepuluh ribu rupiah. Jika dirasa kadar alkoholnya masih kurang, bisa dipendam sendiri.
Di Kalimantan Tengah. Jangan sembarangan meminum air putih dalam botol air mineral yang dijumpai di rumah seorang pemabuk. Siapa tahu saja itu baram dengan kadar alkohol yang sangat tinggi. (http://hikarusky.wordpress.com/)

21 November 2014

Ciu, cemceman anak tikus dari Sukoharjo yang melegenda

Ciu, cemceman anak tikus dari Sukoharjo yang melegenda

Hampir setiap wilayah di Nusantara mempunyai minuman tradisional yang kesohor. Minuman tersebut tidak sedikit yang mengandung alkohol alias memabukkan.

Salah satu minuman tradisional memabukkan dan sangat fenomenal adalah Ciu. Minuman ini berasal dari sebuah daerah kecil di Desa Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lalu bagaimana cara membuat ciu?

Bila anda berkunjung ke Desa Bekonang, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, pasti ada dua kesan yang dapat ditemui di lokasi itu. Yang pertama, sejauh mata memandang yang terlihat hanya drum-drum besar menyerupai gentong di depan rumah warga. 

Tak hanya itu saja, kesan selanjutnya yang terekam dalam benak setiap orang yang datang ke desa tersebut adalah bau yang mirip aroma minuman anggur. Hanya saja, aroma yang keluar lebih tajam dan sangat menusuk hidung. Ya, Desa Bekonang selama ini memang terkenal sebagai sentra industri etanol di Sukoharjo. Bahkan di Jawa Tengah.

Di tengah aktivitas puluhan perajin yang setiap harinya memproduksi cairan medis ini, ada pekerjaan sambilan lain yang dilakukan warga setempat. Warga kerap menyuling sisa-sisa cairan etanol yang dicampur dengan tetesan tebu. Proses penyulingan ini dilakukan berulang kali, dicampur beberapa bahan lainnya sebelum diendapkan selama tujuh hari. Hasil penyulingan sisa etanol inilah yang biasanya gemar diminum banyak orang sampai mabuk.

Ciu Bekonang, begitu orang mengenalnya memang diracik melalui tahapan tersebut. Kadar alkohol yang terkandung di dalam ciu tentu berbeda dengan miras lainnya. Komposisinya, bila kadar alkohol di dalam cairan etanol murni mencapai alkohol 90 persen, bio-etanol sekitar 99,5 persen tapi kadar alkohol pada ciu sekitar 35 persen. Konon untuk menambah rasa ciu orang mencampurnya dengan cindil atau anak tikus yang masih merah dan belum membuka mata. Cindil ini kemudian ikut direndam bersama cairan etanol tersebut.

Yang menarik, perajin etanol ini sebenarnya diatur dalam Perda setempat. Namun yang diatur adalah etanol atau alkohol, sedangkan produk ciu masih dianggap ilegal. Meski demikian karena peminatnya sangat banyak, perajin etanol di Bekonang nyuri-nyuri dan tetap memproduksi ciu.

Menurut sejarahnya, ciu sudah ada sejak abad 17 dan pada masa kolonial Belanda minuman ini sudah dikenal sebagai miras tradisional. Sejak 1966 pun, jumlah pengrajin ciu selalu bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah perajin etanol sampai 200 persen. Kemunculan ciu Bekonang berkaitan dengan berdirinya pabrik gula Tasikmadu di Karanganyar yang kala itu merupakan aset penting Pura Mangkunegaran.

Kini banyak warga Bekonang yang nyambi meracik ciu untuk menyambung hidup. Salah satunya Kardiman. Pria yang menjadi perajin etanol di Desa Bekonang Dusun Sentul Sukoharjo mengatakan, miras jenis ciu ini hanya diproduksi di kampungnya. 

Hal ini karena jumlah perajin etanol yang nyambi membuat ciu yang ada saat ini kian membengkak seiring meningkatnya kebutuhan warga yang mengonsumsi minuman haram tersebut. "Banyak sekali. Bahkan saya kira ada lebih dari puluhan orang yang nyambi membuat ciu sebab alasannya macam-macam ada yang membuat ciu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan ada pula karena minuman ini banyak peminatnya," kata Kardiman.

Sementara bagi Mardiyanto perajin etanol lainnya di Dusun Sembung Sukoharjo, meracik minuman ciu lebih disebabkan faktor menurunnya jumlah permintaan etanol di sektor industri medis. "Jadi saya pilih membuat ciu saja. Kalau yang produksi etanol masih tetap jalan tapi tidak sebanyak yang dulu," urainya.

Kesohor ke seantero negeri

Meski diproduksi di desa kecil, namun nama ciu sendiri sudah sangat kesohor seantero negeri. Bahkan di Jakarta peredaran minuman ilegal ini juga banyak.

Nugroho, salah warga Jatinegara, Jakarta Selatan ini mengaku sering membeli ciu untuk dikonsumsi sendiri atau bersama teman-temannya. Nugroho selama ini membeli ciu dari seorang agen kecil di sekitar tempat tinggalnya.

"Di dekat rumah kebetulan ada, bisa deliveri malahan. Kalau butuh tinggal telepon saja. Selain itu pernah juga beli di Pulogadung sama Rawamangun," ujar Nugroho.

Menurut pemuda gondrong dan kerempeng ini, ciu dijual dengan botol bekas air mineral 600 mililiter. Sebotol, Nugroho membeli seharga Rp 20 ribu.

"Lebih nendang aja dibanding minuman bermerek kayak Vodka, Whisky dan sejenisnya. Minum secawan juga langsung bikin nyes, dan hidung nyos. Langsung teler," ujarnya.

Iqbal pun mengaku pernah mendengar jika dalam proses pembuatannya ciu menggunakan cindil atau anak tikus. Namun baginya itu bukan masalah, yang penting rasa dan harganya yang terjangkau.

"Iya katanya dari cindil, tapi kan memang langsung bikin nyos. Beda sama minuman bermerek. Ya minum asal gak banyak sich gak papa," ujarnya. (www.merdeka.com)