Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2017

Ada 644 Jenis Narkoba di Dunia, Baru 43 yang Diatur di Indonesia



Ada 644 Jenis Narkoba di Dunia, Baru 43 yang Diatur di IndonesiaKomjen Buwas (Foto: dok. detikcom)
BNN memperkirakan ada 644 jenis narkoba yang beredar di seluruh dunia. Dari 644 jenis narkoba itu, BNN memperkirakan ada 65 jenis narkoba baru yang beredar di Indonesia.

"Berdasarkan data yang dikeluarkan dalam World Drugs Report 2016, sejak 2008 sampai 2015 telah terindikasi sebanyak 644 total NPS (new psychoactive substances) yang dilaporkan oleh 102 negara dan 65 jenis baru ini telah masuk ke Indonesia," ujar Kepala BNN Komjen Budi Waseso saat sambutan di Hari Antinarkotika Internasional (HANI) di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (13/7/2017).

Dia menjelaskan, dari 65 jenis narkoba baru yang masuk ke Indonesia, baru 43 yang diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan (permenkes).


"Di mana baru 43 jenis yang telah dimasukkan ke dalam Permenkes No 2/2017 tentang perubahan penggolongan narkotika, sisanya belum," ucap Buwas.

3 April 2017

Infiltrasi Asing, Komunisme, dan Perang Candu Ancaman Nyata Indonesia




masalah-ri Ada lima persoalan yang saat ini sedang dihadapi Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI]. Kelima hal itu adalah pertama, potensi perkembangan dan kebangkitan komunis.
Kedua,  adanya invasi senyap kekuatan asing dalam bentuk sumber daya manusia. Ketiga,  adanya potensi konflik antar-etnis dan umat beragama. Keempat,  lemahnya kedaulatan masyarakat Indonesia. ‘’Kelima, mulai bergesernya pemahaman ideologi Pancasila,’’ kata Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional [PSKN-Unas] Iskandarsyah Siregar, Selasa [27/12/2016].
Hal itu diungkapkan Iskandar sebagai rekomendasi hasil Musyawarah Kebangsaan yang diadakan PSKN-Unas di kampus Sawo Manila, Pasar Minggu, Jakarta. ‘’Kelima persoalan bangsa  itu harus segera dianalisis, dicarikan solusi, dan diselesaikan besama oleh segenap komponen bangsa Indonesia,’’ kata Iskandarsyah.

9 Februari 2017

Korban Miras Oplosan di Bantul Bertambah

Korban meninggal akibat menengguk miras oplosan di Bantul bertambah. Setelah kemarin tiga warga Bantul dipastikan meninggal, kini menyusul dua orang lainnya yang kehilangan nyawa.
Keseluruhan kelima korban itu yakni Sudarsiman alias Kenthut (50), warga Pedukuhan Kurahan, Desa Bantul, Bantul; Wahyu Defri Fantori (21), warga Kurahan, Bantul; Muhdiyanto, Warga Pedukuhan Brongseng, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul; Pardi (40), warga Pedukuhan Ngrancah, Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri; dan Kustiono (33), warga Kurahan, Bantul.
Menurut kesaksian ipar Sudarsiman, April (24), warga Pedukuhan Ngrancah ke penyidik Kepolisian Resor (Polres) Bantul, kejadian nahas yang menewaskan lima orang warga Bantul ini berawal saat Sudarsiman, Sabtu (4/2/2017) sekitar pukul 19.30 membeli miras oplosan di tempat Sumantoro alias Torek (33), warga Pedukuhan Gandekan, Desa Bantul, Bantul.

10 Januari 2017

Bonek Tewas Minum Oplosan, Ini Tanggapan Pentolan Bonek

Republika/Lintar Satria
Pentolan Bonek Persebaya, Andi Peci (baju hijau).
Pentolan Bonek Persebaya, Andi Peci (baju hijau).
Pentolan Bonek atau suporter Persebaya Surabaya, Andi Peci, berbelasungkawa atas kematian lima orang Bonek yang tewas karena menenggak minuman keras oplosan saat berada di Kabupaten Subang. Rencananya mereka akan datang ke Kota Bandung untuk menghadiri Kongres Tahunan PSSI 2017.
"Kami memang berbelasungkawa, mereka secara kesehatan, mungkin kesalahan mereka sendiri. Kita berbelasungkawa," kata Andi Peci, di GOR Pajajaran Kota Bandung, Ahad (8/1).
Menurut dia, berdasarkan informasi yang diterima Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akan datang ke Kabupaten Subang, terkait kematian lima orang Bonek tersebut. "Informasinya Wali Kota Surabaya tadi datang ke Subang dan perwakilan kami datang ke Subang untuk memulangkan mereka, dan hal itu semoga bisa diakhiri di Bonek dan suporter lainnya," ujarnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi baik untuk Bonek atau suporter bola lainnya di Indonesia. "Suporter mayoritas remaja yang memang jiwanya labil makanya ke depan harus diberikan arahan yang benar menjadi suporter," ujarnya.
"Bagaimana mungkin seorang suporter mau mendukung tim kesayangannya, tapi kesehatan mereka seperti itu," kata Andi.
Sebelumnya, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat menyatakan lima orang Bonek atau suporter Persebaya Surabaya tewas karena meminum minuman keras oplosan di Kabupaten Subang. Para bonek itu akan ke Kota Bandung untuk menghadiri Kongres Tahunan PSSI 2017, di Hotel Aryaduta.

27 November 2016

Enam Orang Tewas Akibat Miras Oplosan di Cakung

Seorang berinisial MN (50) yang menjadi penjual minuman ditangkap.
Enam Orang Tewas Akibat Miras Oplosan di Cakung
Miras Oplosan (VIVAnews/Diki Hidayat - Garut)
Sebanyak enam orang meregang nyawa akibat mengonsumsi miras oplosan di Cakung, Jakarta Timur. Mereka melakukan pesta miras pada Sabtu dini hari, 26 November 2016. Selain korban tewas, miras yang mengandung bahan berbahaya ini juga mengakibatkan empat orang lainnya dirawat.
Disampaikan Kapolsek Cakung, Kompol Sukatma, enam korban meninggal adalah AM (25 tahun), AK (35), SB (25), SJ (28), AH (25) , US (31). Sementara keempat korban yang saat ini masih dalam perawatan yaitu TT (35), HS (46), IR (38) dan YL (45).
Kematian enam pemuda tersebut berawal dari informasi warga bahwa korban meninggal dunia karena melakukan pesta  miras di depan halte Pengarengan, Jalan Rajiman, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
"Mereka melakukan pesta miras di dua tempat berbeda. Selain di Pengarengan, sebagian mereka juga minum di Kampung Kebon, Kelurahan Jatinegara, Cakung," kata Sukatma kepada wartawan, Sabtu, 26 November 2016
Petugas Polsek Cakung telah melakukan penyelidikan. Seorang berinisial MN (50) yang menjadi penjual minuman keras oplosan itu sudah diamankan. Barang bukti juga diamankan.

24 November 2016

Sleman Darurat Miras


Pemusnahan ribuan borol minuman keras (ilustrasi)

Pemusnahan ribuan borol minuman keras (ilustrasi)
Peredaran minuman keras (miras) di kabupaten Sleman telah menelan puluhan korban meninggal. Kondisi ini membuat Bupati Sleman, Sri Purnomo menetapkan status darurat miras di wilayahnya.
“Sekarang Sleman darurat miras, karena yang meninggal sudah 26 orang. DBD saja meninggal dua atau tiga sudah darurat. Ini kan puluhan. Jadi kita harus siaga,” ujarnya saat ditemui pada serah terima jabatan bupati di Pendopo Parasamya, Kantor Bupati Sleman, Rabu (17/2).
Menurutnya, atas peristiwa tersebut, mau tidak mau pemerintah setempat harus melakukan operasi razia yang lebih ketat. Sehingga tidak ada ruang gerak bagi penyebaran miras. Begitu pun untuk miras  oplosan. Sri mengatakan, hal ini sesuai dengan Perda Sleman mengenai larangan peredaran miras.

20 November 2016

Darurat Narkoba



Penggerebekan gudang narkoba diJepara, Rabu (27/1), makin menguatkan fakta bahwa peredaran narkoba di Indonesia sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Pintu masuk para bandar narkoba tidak hanya melalui kota-kota besar, juga merambah kota-kota kecil yang memungkinkan mereka untuk menemukan celah.
Teriakan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso alias Buwas sejak tahun lalu bahwa Indonesia seharusnya mengumumkan status darurata narkoba, harus menjadi perhatian serius. Penanggulangannya pun harus melalui cara-cara yang diterapkan dalam kondisi darurat.
Keadaan darurat atau dalam bahasa Belanda staat van oorlog en beleg (SOB) yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai state of emergency biasanya memang diawali suatu pernyataan resmi dari pemerintah pusat. Kondisi darurat bahkan bisa mengubah fungsi-fungsi pemerintahan, memperingatkan warganya untuk mengubah aktivitas, atau memerintahkan badan-badan negara untuk menggunakan rencana-rencana penanggulangan keadaan darurat.
Sudahkah Indonesia kini darurat narkoba?

19 November 2016

Medan Darurat Narkoba

Lagi-lagi aparat kepolisian membongkar home industry (industri rumahan) yang memproduksi narkoba jenis sabu dan ekstasi, di Kota Medan. Karena itu, sudah waktunya negara bertindak tegas-lugas untuk merespons status Indonesia yang darurat narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang). Tindakan tegas-lugas sangat perlu untuk menumbuhkan efek jera bagi para produsen dan pengedar narkoba.
Masalahnya, sindikat narkoba lokal dan internasional kini tak hanya membidik komunitas pemadat, tetapi juga memperkuat cengkeramannya dengan menyusup ke tubuh birokrasi negara. Dengan begitu, urgensi dari tindakan tegas-lugas itu bukan semata-mata melindungi generasi muda dari ancaman narkoba, tetapi juga sebagai serangan balik terhadap sindikat narkoba yang coba membangun kekuatan dan menanamkan pengaruhnya di tubuh birokrasi negara.
Sebaliknya, jika sistem hukum Indonesia terus minimalis menyikapi kondisi negara yang darurat narkoba seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin birokrasi negara nantinya bisa dikendalikan sindikat narkoba. Keberhasilan sindikat narkoba menyusup ke tubuh birokrasi negara sudah bukan rahasia lagi. Oknum kepala lembaga pemasyarakatan (LP) hingga sejumlah sipir sudah dikendalikan sindikat itu.

9 Juni 2016

Pasca Tragedi Yuyun, FPI Akan Lebih Sigap Berantas Miras


Minuman keras (Miras) kembali merenggut nyawa anak bangsa , kali ini tengah ramai diperbincangkan adalah aksi kekerasan seksual disertai pembunuhan yang menimpa Yuyun (14) seorang remaja SMP yang tinggal di Dusun Kasubun Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) , Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu beberapa waktu lalu.
Kejadian naas itu bermula ketika Yuyun pulang dari sekolah sehabis mengikuti kegiatan Pramuka. Dalam perjalanan ia melintas di depan sekelompok pemuda yang tengah berkumpul sambil menenggak tuak (arak tradisional) . Bagai kawanan singa lapar yang mendapati seekor rusa ,pemuda mabuk yang berjumah 14 orang itupun seketika ‘memangsa’ gadis belia tersebut dengan memaksanya untuk melayani nafsu bejat mereka. Yuyun berusaha berontak , namun apalah daya ketika sang gadis kecil menghadapi belasan pria yang tengah dalam buaian nafsu setan iapun tak kuasa. Alhasil ,Yuyun diperkosa oleh gerombolan pemuda itu secara bergiliran.
Tak kuat melayani nafsu bejat para pelaku , Yuyun lantas menghembuskan nafas terakhir di tangan para pemabuk yang dikuasai hasrat birahi. Namun setelah meihat kondisi Yuyun tak sadarkan diri para pelaku tak juga menghentikan aksi bejatnya .
Setelah puas menggilir korbannya dan menyadari bahwa ia telah meninggal dunia , para pelaku hanya menutupi tubuh korban dengan dedaunan lantas meninggalkannya begitu saja.
Tak hanya itu, kebejatan para pemuda cabul itu ketika ditangkap polisi dan dihadapkan dengan penyidik tidak menampakkan raut penyesalan di wajah mereka bahkan sempat tertawa dihadapan penyidik.
Kasus kematian Yuyun ini merupakan satu diantara sekian banyaknya korban kehilangan nyawa akibat minuman berakohol. Hal ini sekaligus menjadi bukti nyata betapa bahayanya efek negatif yang ditimbulkan oleh minumam haram tersebut. Selain merupakan induk dari segala bentuk kejahatan , miras juga menjadi pelopor kerusakan generasi muda bangsa , berkurangnya akal sehat dan nurani bagi yang mengkonsumsi , merusak tatanan sosial ,bahkan mnghilangkan ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa dengan sia-sia.
Semestinya tragedi Yuyun ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah Indonesia yang sampai saat ini tidak punya keberanian untuk membuat aturan yang tegas melarang peredaran miras di seluruh penjuru Negri ini.
Entah menunggu berapa banyak lagi nyawa melayang akibat miras . Entah menunggu berapa banyak lagi pemuda-pemuda rusak akhlaqnya akibat seringnya mengkonsumsi miras ? Yang jelas keuntungan para pengusaha dan bandar-bandar minuman haram itu tidaklah sebanding dengan mereka yang harus kehilangan anggota keluarga, saudara ataupun sahabatnya yang tewas lantaran miras. Begitupun nilai pundi-pundi uang yang masuk ke dalam kas negara atau kantong-kantong pejabat yang bersumber dari tempat-tempat produksi dan distribusi miras mustahil dapat membendung hancurnya moralitas bangsa akibat maraknya generasi muda yang gemar mengkonsumsi miras.
Aksi kekerasan seksual berujung kematian yang menimpa Yuyun itu juga seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai masyarakat. Bahwa ternyata miras bukan hanya tersebar dan marak dikonsumsi di kota-kota besar , tapi juga di pelosok kampung-kampung pedalaman. Dan di lingkungan manapun yang disitu terdapat peredaran minuman-minuman yang memabukkan,maka mustahil lingkungan tersebut akan menjadi tempat yang tentram , damai , serta terbebas dari ancaman kejahatan.
Atas dasar ituah FPI dari awal berdiri tahun 1998 silam telah menyatakan perang terhadap segala jenis minuman haram tersebut hingga detik ini.Berbagai macam cara telah ditempuh , dari melakukan penekanan terhadap pemerintah pusat agar mencabut perizinan yang melegalkan peredaran miras berapapun kadar alkoholnya,menutup semua pabrik-pabrik yang memproduksinya , dan menerbitkan aturan yang tegas melarang miras.
Cabang-cabang FPI di berbagai daerah juga senantiasa mendukung dan mengupayakan diterbitkannya perda-perda anti miras . Tak sampai disitu , Laskar-laskar FPI juga kerap melakukan aksi turun monitoring di lapangan untuk merazia warung-warung kecil hingga gudang-gudang atau agen penyedia miras tanpa mempedulikan tuduhan radikalis , anarkis , ekstremis dan tidak Pancasilais dari sejumlah kalangan.
Tak jarang pula Laskar FPI harus berurusan dengan hukum dan mendekam dibalik jeruji besi karena dituduh melakukan pengrusakan dengan mendobrak gudang-gudang miras dan memecahkan botol-botol minuman haram tersebut.
Kendati demikian , dampak buruk akibat menjamurnya peredaran Miras yang langsung dirasakan oleh masyarakat, terlebih pasca tragedi Yuyun ini seakan menjadi ‘cambuk’ bagi seluruh aktivis FPI untuk lebih sigap dalam memberantas kemaksiatan khususnya miras itu sendiri.Tentunya dengan peran serta aparatur negara dan masyarakat yang punya niat baik untuk memberantas miras agar tidak ada lagi ‘Yuyun-Yuyun berikutnya’. (http://www.citizenjurnalism.com/)

10 Mei 2016

(Kisah Nyata) Rapuhnya Taubat Sang Pemabuk

 Ini adalah berawal dari sebuah kegalauan hati seorang pecandu minuman keras. Rico, bukan nama sebenarnya, hanyalah pemuda yang biasa saja. Seperti remaja umumnya, dia bangga dengan memiliki banyak teman. Hampir setiap hari dia menghabiskan waktunya untuk bermain, dan keluyuran, entah mencari aroma  "kepuasan" dalam hidupnya. Sudah Lima tahun ini dia mengejar kepuasan hidup sebagai anak muda yang tidak tahu arah dan tujuan hidup, kelimpungan, gak karuan, pecandu berat minuman keras. Berbagai macam minuman telah dia rasakan, cimeng, ganja, dan segala macam jenis penyumbat mulut telah berhasil dia jejalkan dalam mulut pongahnya. Yang selalu menyebut kesekian perbuatan begundal itu sebagai sebuah " SENI". Mulut pongahnya, yang selalu pandai mencari beribu alasan untuk membenarkan perbuatan salahnya. Dia beragama Islam, dia juga pandai mengaji, karena dahulunya dia juga pernah belajar mondok akunya. Meskipun dalam keadaan mabuk berat dia tidak pernah sekalipun menyakiti orang-orang yang ada disekitarnya. Dia masih saja tetap simpatik dan menaruh hormat kepada orang lain. Ruhaninya belum mati 100 %, Ramdahan tahun-tahun lalu, telah banyak dia habiskan untuk berpoya-poya mengejar "kebahagiaan" semu. Pada Selinting ganja, pada berbotol-botol minuman syetan memabukkan, pada semua rutinitas  yang memburu kesenangan sesaat. Ramadhan kali ini, dia bertekad ingin memperbaiki diri (bertobat), senang sekali rasanya saya mendengar kabar.. " Si Rico Sholat....!!!" " Si Rico Puasa...!!!" saya pun, diam-diam juga mengucapkan syukur atas kabar baik ini. Di hari pertama ramadhan, dia benar-benar telah berubah, dia sudah benar-benar sholat dan berpuasa. Hari kedua, semakin baik, ia mantabkan hatinya bahwa ramdhan ini harus berubah.....Akan tetapi... Di hari ketiga ramadhanlah  Ujian itu muncul, sepulang dari shalat tarawih, dia mendapati teman-temannya yang dahulu berkubang dalam kesesatan, tengah berpesta miras didalam kamarnya. Mereka tengah asyik melambungkan angan-angan kosong, pada sebotol anggur merah yang rasanya menyedakkan tenggorokan. Rico, yang keimanannya tengah diuji, benteng pertaubatan yang barus saja dia bangun dalam tiga hari, sudah harus mendapatkan gempuran kuat dari bala tentara syaitan. Teman-temannya yang dahulu ikut memberikan secangkir " kenikmatan" kepadanya. Apa yang terjadi, ada pertempuran hebat dalam hati kecilnya, dia ingin sekali menyudahi "maksiat" ini. Dan menutup rapat-rapat celah syetan yang mencoba menyusup menawarkan pesona " kenikmatan" kepadanya. Namun, kenyataannya sunnguh mengecewakan, bala tentara syetan masih terlalu tangguh dibandingkan dengan benteng taubat yang baru dia bangun tiga hari itu. Dia limbung, mengalah demi satu kata. " TOLERANSI", rumus toleransi yang ngawur, "baginya lebih berdosa  menolak ajakan temannya untuk mabuk-mabukan, dari pada menolak ajakan orang lain untuk sholat atau ngaji". Hari ini, aku berkata kepadanya..sebagai seorang teman yang senang temannya kembali kepada kebaikan dan agama. Aku berkata lantang kepadanya " Aku sangat kecewa denganmu" . Namun, dia hanya mengucapkan satu kalimat. " Aku saja kecewa dengan diriku sendiri, aku sudah tak berhak mendapatkan idul fitri"

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ahmadmujiyarto/kisah-nyata-rapuhnya-taubat-sang-pemabuk_55126e24813311bd56bc5fd3

21 April 2016

Kasat Narkoba Ditangkap, Petinggi BNN Enggan Berikan Keterangan

Ilustrasi

Ilustrasi
Petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) enggan memberikan komentar Terkait dugaan ditangkapnya Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan, AKP Ichwan Lubis di Medan, Sumatera Utara (Sumut) oleh BNN Pusat.
Informasi dihimpun, Kamis (21/4/2016), penangkapan tersebut terkait dugaan penemuan rekening gendut milik Kasat Narkoba Belawan dan penemuan sejumlah uang pada saat penangkapan di rumah Ichwan Lubis.
Setelah penangkapan tersebut, Ichwan Lubis sempat menjalani pemeriksaan di Mapolda Sumut dan selanjutnya dibawa ke kantor BNN Pusat di Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan dan pengembangan. 
Kepala BNN Provinsi Sumut, Brigjen Andi Loedianto saat coba dikonfirmasi melalui telefon dan pesan singkat tidak memberikan jawaban.
Sedangkan Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Edy Swandono yang merupakan pimpinan AKP Ichwan juga tidak memberikan jawaban atas penangkapan tersebut.
Seorang pejabat BNN Provinsi Sumut yang menjawab telefon juga enggan memberikan komentar detail terkait penangkapan tersebut.
"Saya enggak tahu. Mungkin ke Polda. Soalnya bukan kegiatan kami (BBN Sumut). Nanti kalau saya beri keterangan bisa salah," ujar Kabid Pemberantasaan Narkoba BNN Provinsi Sumut, AKBP Agus Halimudin.
Sedangkan nomor telefon Kepala BNN RI, Komjen Budi Waseso, saat dihubungi tidak aktif.
(http://news.okezone.com/)