11 Mei 2014

Cukrik Yang Asli Tidak Mematikan


Cukrik Yang Asli Tidak Mematikan
 Maraknya korban berjatuhan akibat minuman keras oplosan, membuat miris seluruh masyarakat, terutama para orang tua. Kasus terbaru, adalah tewasnya 13 orang di kawasan Pakis Surabaya setelah menggelar pesta miras jenis Cukrik yang saat ini tengah didalami kasusnya oleh polisi.

Tentu kita bertanya-tanya, bahan apa yang dioplos (campur, rd) dalam minuman keras tersebut sehingga menyebabkan kematian secara serentak bagi peminumnya dan mengarah pada keracunan? Padahal kita tahu, budaya minum-minuman keras sudah ada sejak dulu. Bahkan hampir di seluruh wilayah Indonesia dan dunia, tradisi minum-minuman keras sudah ada sejak lama hingga menjadi tradisi dan budaya.

Memang setiap daerah, khususnya di Indonesia, mempunyai minuman keras khas tersendiri dengan sebutan berbeda. Meski begitu, minuman tersebut tetap dibuat dengan metode yang sama, yakni fermentasi. Hanya yang membedakan, adalah bahan yang digunakan untuk meramu minuman karena tergantung hasil bumi di kawasan tersebut.

Beberapa nama minuman keras khas dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya adalah Arak (Tuban), Ciu (Semarang), Lapen (Yogyakarta), Sofi (Ambon), Cap Tikus (Papua), Arak Bali (Bali), Cukrik (Surabaya) dan Tuak (Gresik -Tuban). Minuman - minuman tersebut, diproduksi secara tradisional dengan memanfaatkan sumber daya alam di daerahnya masing-masing. 
Namun khusus untuk minuman keras khas Surabaya (cukrik), bukan merupakan minuman produksi lokal, terdapat beberapa ramuan yang dioplos untuk meninggikan kadar alkohol, serta memberikan rasa pada minuman.

Tidak jelas pula, nama cukrik berasal dari mana. Cukrik juga  tidak memiliki arti khusus dalam bahasa Surabaya. Mesin pencari google pun tidak menemukan artikel yang menjelaskan sejarah minuman ini. Beberapa spekulasi muncul dari nama Cukrik, diantaranya adalah nama peramu pertama minuman keras di Surabaya.

Nama cukrik sendiri telah lama populer di kalangan masyarakat Surabaya, khususnya penghobi minuman keras. Berdasar pengetahuan penulis, sekitar tahun 90-an, warna minuman cukrik cukup bening dan memiliki bau sangat khas alkohol. Beda dengan minuman keras lain yang baunya muncul dari bahan dasar yang digunakan.

Semisal arak beras, jika dicium atau dirasakan, aroma beras atau nasi yang gurih akan mudah dikenali. Begitu juga minuman yang berbahan dasar dari fermentasi singkong, akan terasa manis dan asam. Namun minuman jenis cukrik sama sekali tidak beraroma dan berasa, hanya aroma dan rasa khas alkohol yang menyengat.

Pada era tahun 90-an, berdasar sepengetahuan penulis, dua tempat di Surabaya yang terkenal dengan penjual cukriknya, yakni kawasan Plemahan serta Wonorejo. Plemahan dipercaya sebagai penghasil minuman jenis cukrik pertama kalinya. Harga satu liter cukrik pada masa itu, sebesar 6 ribu Rupiah.

Kusnadi, seorang warga Wonorejo yang pernah menjadi penjual cukrik mengatakan, minuman dengan kadar alkohol tinggi itu memang ramuan atau oplosan yang berbahan dasar dari arak yang biasanya didatangkan dari Tuban. Arak tersebut dicampur dengan air untuk memperbanyak kuantitas serta alkohol untuk mempertahankan efek mabuk dan sedikit gula sebagai penetralisir. Hal ini dilakukan untuk menambah keuntungan penjual. "Kalau cukrik asli, campurannya nggak macam - macam, dan tidak berbahaya. Istilahnya murah tapi bisa happy," ujar Kusnadi sambil tertawa.

Kusnadi mengatakan, harga arak dengan kualitas bagus cukup mahal, setara dengan miras bermerek. Berdasar keterangan Kusnadi, harga satu liter arak dengan kualitas bagus bisa mencapai Rp 150 ribu. Namun, minat pembeli untuk arak asli sangat minim karena mahal. Itulah yang membuat pedagang meramu kembali araknya menjadi cukrik.

"Kalau arak asli nggak laku mas. Orang-orang ini mintanya murah tapi jos. Sampai ada guyonan, yok opo carane duwik sepuluh ewu isok mendem (gimana caranya uang sepuluh ribu bisa mabuk)," bebernya.

Rupanya, harga ekonomis dengan efek memabukkan yang tinggi pada minuman cukrik cukup digemari masyarakat Surabaya. Namun demikian, dengan campuran yang dibeberkan Kusnadi tersebut, pada era tahun 90-an, tidak terjadi kasus keracunan miras yang berujung pada kematian. Hal ini sudah tentu adanya perubahan bahan campuran atau takaran pada cukrik. Informasi yang berkembang, bahan alkohol atau dalam bahasa kimianya etanol, telah diganti dengan metanol atau yang biasa kita sebut dengan spirtus.

Beberapa artikel menyebutkan, bahwa etanol (alkohol) dan metanol (spirtus) merupakan satu proses yang sama namun berbeda bahan dasar. Untuk etanol biasanya berbahan dasar kayu atau batu bara. Metanol sendiri dikenal cukup berbahaya jika masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan kematian. Salah satu artikel menyebutkan 3 mililiter metanol yang masuk ke dalam tubuh manusia, bisa menyebabkan kebutaan secara permanen. Dalam peredarannya pun dibedakan. Untuk penjualan bebas, metanol diberi warna ungu, hal ini sebagai pembeda antara etanol (alkohol) dan metanol (spirtus). Pasalnya, keduanya mempunyai warna dasar, bau dan rasa yang sama, namun dengan tingkat bahaya yang berbeda. [beritajatim.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar