4 November 2014

Petani Sedot Air, Limbah Ciu Merembes ke Sumur Warga


Seorang pengrajin alkohol asal Dukuh Sentul, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo melihat puluhan drum berisi bahan alkohol, Jumat (10/1) siang. Produksi ciu dari Bekonang meningkat tajam seiring bertambahnya jumlah pengrajin alkohol. (JIBI/Solopos/Istimewa)Seorang pengrajin alkohol asal Dukuh Sentul, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo melihat puluhan drum berisi bahan alkohol, Jumat (10/1/2014) siang. Produksi ciu dari Bekonang meningkat tajam seiring bertambahnya jumlah pengrajin alkohol. (JIBI/Solopos/Istimewa)
Kabid Pengendalian pencemaran Lingkungan BLH Sukoharjo, Ir. Hartoyo, mengatakan, permintaan penghentian aktivitas penyedotan air tersebut dibarengkan dengan dibukanya kembali pintu air dam Colo, per 1 November.
Sehingga, permintaan tersebut dianggap tak merugikan para petani yang ingin mengairi sawahnya. “Sebagian petani memang sudah menghentikan penyedotan air atas permintaan RW setempat. Namun, sebagai masih menanti dibukanya dam Colo,” terangnya.
Kali Samin, kata Hartoyo, selama ini menjadi sasaran utama pembuangan limbah industri alkohol. Sehingga, ketika dilakukan penyedotan air dengan mesin pompa, limbah yang mengendap di dalam tanah terangkat kembali ke permukaan. “Risikonya, sumur-sumur warga yang dangkal teraliri limbah ciu yang mengendap di dalam tanah,” ujarnya ketika ditemui Solopos.com, Jumat (31/10/2014).
Hartoyo menjelaskan, ada sekitar 82 pengrajin alkohol di Dukuh Pondok dan Bakalan, Polokarto. Dari jumlah tersebut, tak ada satu pun limbah alkohol yang diolah melalui instalasi pembuangan air limbah (IPAL).
Pasalnya, rata-rata mereka adalah industri kelas rumah tangga yang tak memiliki IPAL. “Biaya pembuatan satu IPAL saja bisa Rp300 juta,” ujarnya.
Sebenarnya, lanjutnya, di desa tersebut sudah ada IPAL komunal, namun sudah lama tak berfungsi. Sehingga, BLH berinisiatif untuk membangunkan IPAL komunal sebagaimana yang telah dilakukan di Desa Bekonang, Mojolaban.
“Kami akan ajukan anggaran ke Provonsi. Namun, syaratanya haruis sudah tersedia lahan yang memadai,” paparnya.
Kepala BLH Sukoharjo, Suradji menambahkan, persoalan limbah industri rumah tangga memang menjadi persoalan serius. Pasalnya, rata-rata pembuangan limbahnya selalu bermuara ke sungai langsung, tanpa melalui IPAL. Ia bahkan menyatakan, 80% persoalan limbah di Sukoharjo disebabkan oleh industri rumah tangga.
Sebagaiman diberitakan sebelumnya, sebanyak tiga sumur warga Dukuh Pondok RT 003/ RW 005, Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo tercemar limbah ciu. Pencemaran itu diduga berasal dari Kali Samin yang disedot petani untuk mengairi sawahnya. (www.solopos.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar