19 Februari 2015

Permainan Kartu Domino di Kedai Tuak Berujung Maut

Hendrik Ambarita (27), warga Kabupaten Tobasa, tewas setelah ditikam temannya saat bermain kartu domino di kedai tuak milik Lando Sitorus (42) di Huta Aek Natolu Jaya, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, Rabu (18/2/2015) malam.

Lando Sitorus alias Pak Riski juga ditikam di bagian dada oleh pelaku, Alex Nainggolan (27), sopir angkot Parsito yang masih satu kampung dengan para korban.

Saat ini, Lando dalam kondisi kritis di RS Vita Insani Pematangsiantar, sementara jenazah Hendrik dibawa petugas Polsek Lumbanjulu menuju kamar forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk keperluan otopsi.

Dari informasi yang dihimpun, malam sebelum kejadian, Hendrik bersama Alex datang di kedai tuak milik Lando. Setibanya di lokasi, Hendrik memesan tuak, kemudian mengambil posisi duduk satu meja dengan Alex.

Sambil menikmati minuman tuak yang terhidang di atas meja, Hendrik bersama Alex bermain kartu domino. Belakangan, Lando yang semula melayani pengunjung yang minum tuak ikut bergabung main kartu domino.

Tanpa diketahui penyebabnya, sewaktu bermain kartu domino, tiba-tiba saja Hendrik bertengkar dengan Alex, bahkan nyaris adu pukul sehingga Lando langsung melerai. Para pengunjung lain pun langsung membubarkan diri dari kedai milik Lando.

Setelah keributan reda, Hendrik melanjutkan main kartu domino dengan Lando. Sementara itu, Alex pulang. Tepat sekitar pukul 23.45 WIB, Alex datang lagi ke tempat semula dengan maksud menyelesaikan permasalahan.

Begitu berhadapan, Hendrik kembali cekcok mulut dengan Alex sehingga Lando mencoba melerai. Alex yang masih dibalut rasa emosi langsung mengeluarkan sebilah pisau belati yang terselip di balik pinggangnya, kemudian menyerang dengan menikam dada Lando. Melihat hal itu, istri Lando langsung membawa suaminya ke dalam rumah dan meninggalkan Hendrik bersama Alex di depan kedai.

Saat itu, Alex langsung menyerang Hendrik dengan menghujamkan berbagai tikaman ke tubuh Hendrik. Merasa tersudut, Hendrik segera berlari menyelamatkan diri sambil menghubungi keluarganya lewat telepon seluler.

Baru berjarak 15 meter dari kedai tuak, Hendrik berhasil ditangkap Alex sehingga langsung ditikami sampai tewas. Seusai menyerang Hendrik, Alex kabur meninggalkan lokasi.

Ditemui di kamar forensik, ipar Hendrik, Pak Marco Hutabarat (36), mengaku tidak tahu motif permasalahan hingga Alex tega menikam Hendrik. Padahal, setahunya Hendrik selama ini tidak pernah ribut mulut dengan Alex.

"Nggak tahu apa yang diributkan mereka. Jelasnya, begitu kejadian, boru Pasaribu (istri Lando) langsung menghubungi Taman Ambarita, abang kandung Hendrik. Taman langsung pergi ke rumah Lando, lalu saya datang menyusul ke sana. Setibanya di sana, Hendrik kami lihat tidak ada di kedai tuak. Begitu dicari, Hendrik kami lihat sudah tewas 15 meter dari kedai tuak," katanya.

Kapolsek Lumbanjulu AKP Hermansyah mengatakan, pihaknya masih menyelidiki keberadaan pelaku yang melarikan diri.

"Belum diketahui pasti motif dari peristiwa ini dan masih simpang siur. Warga yang kita tanyai di TKP tidak ada yang tahu. Begitu juga korban luka yang masih dirawat tidak tahu motif keributan mulut. Sampai sekarang, pelaku masih dalam pencarian petugas," kata Sinaga. (http://regional.kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar