Hendrik Ambarita (27), warga Kabupaten Tobasa, tewas setelah ditikam
temannya saat bermain kartu domino di kedai tuak milik Lando Sitorus
(42) di Huta Aek Natolu Jaya, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa,
Sumatera Utara, Rabu (18/2/2015) malam.
Lando Sitorus alias Pak
Riski juga ditikam di bagian dada oleh pelaku, Alex Nainggolan (27),
sopir angkot Parsito yang masih satu kampung dengan para korban.
Saat
ini, Lando dalam kondisi kritis di RS Vita Insani Pematangsiantar,
sementara jenazah Hendrik dibawa petugas Polsek Lumbanjulu menuju kamar
forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk keperluan
otopsi.
Dari informasi yang dihimpun, malam sebelum kejadian,
Hendrik bersama Alex datang di kedai tuak milik Lando. Setibanya di
lokasi, Hendrik memesan tuak, kemudian mengambil posisi duduk satu meja
dengan Alex.
Sambil menikmati minuman tuak yang terhidang di
atas meja, Hendrik bersama Alex bermain kartu domino. Belakangan, Lando
yang semula melayani pengunjung yang minum tuak ikut bergabung main
kartu domino.
Tanpa diketahui penyebabnya, sewaktu bermain kartu
domino, tiba-tiba saja Hendrik bertengkar dengan Alex, bahkan nyaris
adu pukul sehingga Lando langsung melerai. Para pengunjung lain pun
langsung membubarkan diri dari kedai milik Lando.
Setelah
keributan reda, Hendrik melanjutkan main kartu domino dengan Lando.
Sementara itu, Alex pulang. Tepat sekitar pukul 23.45 WIB, Alex datang
lagi ke tempat semula dengan maksud menyelesaikan permasalahan.
Begitu
berhadapan, Hendrik kembali cekcok mulut dengan Alex sehingga Lando
mencoba melerai. Alex yang masih dibalut rasa emosi langsung
mengeluarkan sebilah pisau belati yang terselip di balik pinggangnya,
kemudian menyerang dengan menikam dada Lando. Melihat hal itu, istri
Lando langsung membawa suaminya ke dalam rumah dan meninggalkan Hendrik
bersama Alex di depan kedai.
Saat itu, Alex langsung menyerang
Hendrik dengan menghujamkan berbagai tikaman ke tubuh Hendrik. Merasa
tersudut, Hendrik segera berlari menyelamatkan diri sambil menghubungi
keluarganya lewat telepon seluler.
Baru berjarak 15 meter dari
kedai tuak, Hendrik berhasil ditangkap Alex sehingga langsung ditikami
sampai tewas. Seusai menyerang Hendrik, Alex kabur meninggalkan lokasi.
Ditemui
di kamar forensik, ipar Hendrik, Pak Marco Hutabarat (36), mengaku
tidak tahu motif permasalahan hingga Alex tega menikam Hendrik. Padahal,
setahunya Hendrik selama ini tidak pernah ribut mulut dengan Alex.
"Nggak
tahu apa yang diributkan mereka. Jelasnya, begitu kejadian, boru
Pasaribu (istri Lando) langsung menghubungi Taman Ambarita, abang
kandung Hendrik. Taman langsung pergi ke rumah Lando, lalu saya datang
menyusul ke sana. Setibanya di sana, Hendrik kami lihat tidak ada di
kedai tuak. Begitu dicari, Hendrik kami lihat sudah tewas 15 meter dari
kedai tuak," katanya.
Kapolsek Lumbanjulu AKP Hermansyah mengatakan, pihaknya masih menyelidiki keberadaan pelaku yang melarikan diri.
"Belum
diketahui pasti motif dari peristiwa ini dan masih simpang siur. Warga
yang kita tanyai di TKP tidak ada yang tahu. Begitu juga korban luka
yang masih dirawat tidak tahu motif keributan mulut. Sampai sekarang,
pelaku masih dalam pencarian petugas," kata Sinaga. (http://regional.kompas.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar